JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pendidikan Sekolah Dasar di Solo Belum Wajib Terapkan 5 Hari Sekolah

Sekolah Dasar di Solo Belum Wajib Terapkan 5 Hari Sekolah

68
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
ilustrasi

SOLO – Tahun ajaran 2017/2018, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta belum mewajibkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) untuk menerapkan lima hari sekolah.

Meski demikian, Disdik Kota Surakarta tidak melarang SDN untuk menerapkan lima hari kerja jika memang sudah siap dengan Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarananya.

Sedangkan untuk SD swasta, sudah banyak yang menyatakan kesiapan untuk menerapkan lima hari sekolah dan bahkan SD swasta sudah banyak yang menerapkan lima hari sekolah.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) SD Disdik Kota Surakarta, Wahyono mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan kesiapan terkait dengan pelaksanaan lima hari sekolah dari SDN yang ada di Solo.

Namun untuk SD swasta di Kota Solo, selama ini sudah banyak yang menyelenggarakan lima hari sekolah.

“Kalau lima hari sekolah, untuk sementara ini baru ada beberapa SD swasta yang menyatakan sudah siap. Sedangkan untuk SD negeri, kami belum menerima laporannya dari UPTD,” terang Wahyono, Senin (3/7/2017).

Lanjut Wahyono, kemudian terkait dengan turunnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 23/2017 Tentang Hari Sekolah, Disdik telah menindaklanjutinya dengan menyosialisasikan kepada kepala-kepala SD sekaligus kepala-kepala UPTD.

Dalam sosialisasi tersebut, Wahyono berharap kepada sekolah-sekolah untuk mempersiapkan. Meski demikian, sejauh ini Disdik Kota Surakarta belum sampai pada mewajibkan semua SD untuk menerapkan lima hari sekolah tersebut.

Terlebih dalam Permendikbud juga disebutkan pada Ayat 1 Pasal 9, bahwa dalam hal kesiapan sumber daya pada sekolah dan akses transportasi belum memadai, pelaksanaan ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dapat dilakukan secara bertahap.

“Ada klausal bahwa itu dilaksanakan secara bertahap, menyesuaikan keadaan sekolah. Sehingga bagi sekolah yang saat ini sudah melaksanakan ya tinggal melanjutkan. Yang merasa sudah siap dan akan melaksanakan silakan mempersiapkan juga dipersilakan melakukan studi banding ke sekolah yang sudah menerapkan, sementara untuk yang belum bisa tahun ini, ya bisa memulai persiapan untuk penerapan tahun berikutnya, misalnya dengan berkomunikasi antara pihak sekolah, guru, dan orang tua siswa. Dan tentunya jangan terlalu memaksakan diri,” ujar Wahyono.

Dwi Hastuti