JOGLOSEMAR.CO Foto Solo Batik Carnival ke-10, Walikota Pakai Kostum Jatayu Seberat Lima Kilogram

Solo Batik Carnival ke-10, Walikota Pakai Kostum Jatayu Seberat Lima Kilogram

91
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
KOSTUM TOPENG – Peserta menggunakan kostum dengan tema Topeng mengikuti jalannya Kirab Solo Batik Carnival X di jalan Bhayangkara, Surakarta, Sabtu (15/7). Gelaran Solo Batik Carnival yang ke sepuluh mengambil tema Astamurti Kawijayan dengan diikuti oleh 190 peserta.

SOLO—Acara Solo Batik Carnival (SBC) digelar secara meriah di pelataran depan Stadion Sriwedari, Sabtu (15/7/2017).

Sekitar pukul 14.30 WIB terlihat Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo didampingi Wakil Walikota Achmad Purnomo dan Kapolresta Surakarta, AKBP Ribut Hari Wibowo hadir dengan mengenakan kostum Jatayu yang menjadi maskot SBC tahun ini.

Terlihat masyarakat menyambut dengan sangat antusias gelaran rutin tahunan ini. SBC kali ini merupakan SBC yang ke-10 dengan mengangkat tema “Astamurti Kawijayan”. Pertunjukan dibuka dengan Tari Bedaya yang menampilkan 16 penari.

Beberapa burung merpati pun diterbangkan sebagai tanda resminya dibuka gelaran SBC. Terhitung sekitar 450 pengisi acara dengan beberapa special performers seperti Jember Fashion Carnaval, Caruban Carnival, Peni Candra Rini, Gilang Ramadhan Studio Band, Mister Teen International 2016, Mister Teen Jateng 2017, dan lain-lain.

Selain Jatayu, Dasawarsa SBC X ini pun menampilkan lima defile lainnya. Yakni wayang, topeng, Ratu Pantai Selatan, Mustika Jawa Dwipa, dan Sekar Jagat. Para pengisi acara pun berjalan mulai panggung Sriwedari dan berakhir di Benteng Vestenburg.

Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
PESERTA KECIL – Seorang bocah menggunakan kostum dengan tema Sekar Jagat mengikuti jalannya Kirab Solo Batik Carnival X di jalan Bhayangkara, Surakarta, Sabtu (15/7). Gelaran Solo Batik Carnival yang ke sepuluh mengambil tema Astamurti Kawijayan dengan diikuti oleh 190 peserta.

Dalam sambutannya, Walikota FX Hadi Rudyatmo yang mengenakan kostum seberat 5 kilogram menegaskan, acara SBC sama sekali tidak mendapatkan dana hibah dari Pemkot. Artinya semua pengeluaran merupakan hasil dari dana mandiri.

Ia pun turut mengapresiasi dengan konsistensi panitia SBC yang masih bisa mempertahankan salah satu gelaran yang mengangkat budaya itu.

“Dari SBC ini para desainer bisa belajar dan menjadi top. Selain itu juga bisa memberikan hiburan bagi warga dan menyedot wisatawan, baik luar kota maupun luar negeri,” tutur pria yang kerap disapa Rudy ini.