JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tarif PDAM Sragen Naik 20 Persen, Denda Naik 100 Persen

    Tarif PDAM Sragen Naik 20 Persen, Denda Naik 100 Persen

    49
    BAGIKAN
    ilustrasi. Foto : Grafis Joglosemar

    SRAGEN – Setelah sempat terjadi tarik ulur, PDAM Sragen akhirnya resmi menetapkan besaran kenaikan tarif layanan dasar mulai bulan Juli 2017 ini.

    Untuk tarif dasar air akan naik  20 persen dari semula Rp 1.950 per liter/detik (kubik) menjadi Rp 2.400 per kubik atau naik Rp 450 per kubik.

    Tidak hanya tarif dasar, kenaikan juga diberlakukan untuk besaran denda bagi pelanggan yang nunggak dan dana pemeliharaan water meter.

    Besaran denda akan dinaikkan sebesar 100 persen atau dua kali lipat sedangkan biaya pemeliharaan untuk water meter naik dari 60 persen.

    Kepastian itu disampaikan Penjabat Sementara (PJs) Direktur Utama (Dirut) PDAM Sragen, Supardi, Sabtu (7/7/2017).

    Kepada Joglosemar, ia mengungkapkan rencana kenaikan tarif, denda dan dana pemeliharaan water meter itu akan resmi diberlakukan mulai bulan Juli 2017 untuk pembayaran bulan Agustus 2017.

    Kenaikan tiga item itu juga sudah mendapat persetujuan dan ditandatangani oleh DPRD serta bupati. Ia merinci untuk tarif dasar air, kelompok R2 atau pelanggan rumah, akan naik 20 persen dari semula Rp 1.950 per kubik menjadi Rp 2.400 per kubik.

    “Misalnya untuk pemakaian kebutuhan dasar 10 kubik, tagihannya akan naik sebesar Rp 6.500 dari sebelumnya Rp 19.500 menjadi Rp 24.000,” paparnya.

    Supardi menguraikan kenaikan tarif akan terjadi dalam tiga tahun
    terakhir secara bertahap. Untuk tahun pertama 2017 ini akan naik 20 persen, kemudian tahun 2018 kembali naik 10 persen dan tahun ketiga 2019 juga naik 10 persen dengan mempertimbangkan angka inflasi sebesar 7 persen.

    Kebijakan itu terpaksa dilakukan lantaran sejak 2012 tidak pernah ada revisi atau kenaikan tarif di PDAM Sragen. Berdasarkan perhitungan, untuk memenuhi full cost recovery (FCR) dari 2012 hingga 2017, harusnya tarif dinaikkan sebesar 30 persen.

    “Sudah dapat persetujuan DPRD dan tinggal kita sosialisasikan ke
    pelanggan. Sosialisasi juga sudah kita mulai lewat pelanggan yang datang membayar ke sini, juga lewat pemberitahuan,” terangnya.

    Lebih lanjut, Supardi menyampaikan alasan utama menaikkan tarif adalah biaya produksi yang ditopang beberapa unsur biaya utama seperti tarif dasar listrik, bahan kimia, harga pipa, aksesoris dan biaya pegawai dari tahun ke tahun selalu naik.

    Ia mencontohkan biaya listrik untuk produksi yang dulu Rp 340 juta per bulan, sekarang naik menjadi Rp 700 juta per bulan semenjak tarif listrik naik.

    Belum lagi harga pipa, bahan kimia dan pompa yang rata-rata diimpor, semuanya juga ikut-ikutan membengkak.

    Tidak hanya tarif, denda tunggakan juga resmi dinaikkan 100 persen dari sebelumnya Rp 5.000 menjadi Rp 10.000. Kebijakan ini sengaja dilakukan bukan untuk membebani pelanggan namun sebagai strategi untuk menekan perilaku penunggak.

    “Supaya pelanggan yang biasa nunggak, menjadi lebih tertib karena dendanya dinaikkan. Sebenarnya angka tunggakan kita nggak besar, cuma 10 persen dari total pelanggan. Tapi target kita bisa menuju pembayaran 95 sampai 98 persen,” jelasnya.

    Jumlah pelanggan PDAM saat ini tercatat sebanyak 59.700 orang dan ditargetkan akhir tahun 2017 bisa bertambah menjadi 61.000 pelanggan.

    Satu komponen yang juga akan dinaikkan adalah dana pemeliharaan water meter (alat pencatat air) dari Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 per bulan atau naik 60 persen.

    Kenaikan itu juga untuk menutup kenaikan biaya pembelian water meter yang saat ini mencapai Rp 350.000 per unit. Dana water meter itu nantinya akan kembali ke pelanggan karena setiap lima tahun, water meter akan diganti.

    “Jadi pada waktu ganti water meter, pelanggan tidak ditarik lagi,”
    pungkasnya.

    Wardoyo