Terdakwa Diksar Maut UII Sangkal Keterangan Saksi Saat Sidang di PN Karanganyar

Terdakwa Diksar Maut UII Sangkal Keterangan Saksi Saat Sidang di PN Karanganyar

61
SIDANG LANJUTAN—Dua terdakwa, M Wahyudi dan Angga Septiawan menjalani sidang lanjutan kasus diksar Mapala UII di PN Karanganyar, Rabu (24/5). Foto : Satria UTama

KARANGANYAR—Praktik kekerasan sadis yang membuat sejumlah peserta Diksar TGC XXXVII Mapala UII meninggal dunia terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar, Rabu (5/7/2017).

Salah satu korban, Syaits Asyam sempat melontarkan bisikan ke ibunya sebelum menemui ajal, tentang perilaku sadis yang diterimanya dari para senior yang sebagian ditetapkan sebagai terdakwa.

Hal itu diungkapkan ibunda Asyam, Sri Handayani saat memberikan kesaksian di hadapan persidangan. Sri yang menjadi saksi pertama dalam sidang itu membeberkan kondisi putra kesayangannya sebelum berangkat Diksar, hingga kemudian dilarikan ke rumah sakit sampai detik terakhir menjelang kematiannya di RS Bethesda Yogyakarta.

“Saya histeris waktu lihat kondisi di rumah sakit. Dia pakai alat bantu pernapasan. Napasnya sedikit-sedikit. Dokter bilang kondisi Asyam, dan minta dicatat omongannya,” ungkap Sri sembari tak kuasa menahan tangis.

Sri kemudian melanjutkan, sebelum berangkat putranya dalam kondisi sehat. Sebelum kemudian pada hari kejadian, ia menerima telepon dari teman putranya, yakni Tegar sekitar pukul 10.30 WIB yang mengabarkan putranya dirawat di RS Bethesda.

Baca Juga :  Kebakaran Landa Rumah Makan di Tasikmadu, Kerugian Capai Rp 30 Juta

Ia juga membeberkan pernyataan anaknya di detik-detik terakhir sebelum kepergian tentang apa yang dialaminya sewaktu Diksar.

Menurut Sri, saat itu putranya menceritakan dengan lirih bagaimana dia disabet berkali-kali oleh seniornya, kaki diinjak, dan dipukuli. Semua perkataan putranya itu ia catat sesuai perintah dokter

“Disabet rotan 10 kali. Leher disuruh angkat beban air. Kaki diinjak. Dipukul Yudi. Hanya itu yang dia omongkan. Muka ada sedikit goresan. Dia (Asyam) sempat minta maaf, cium tangan. Setelah itu jam 14.00 lebih, napasnya tersengal-sengal. Saya antar sakaratul maut,” kenang Sri.

Sri mengaku tidak berani menyentuh tubuh anaknya. Tubuh Asyam dari kaki hingga dada tertutup selimut.

Mendengar keterangan itu, salah satu terdakwa, M Wahyudi (Yudi) yang disebut oleh almarhum Asyam, sempat menyangkal kesaksian Sri.

“Ada yang benar dan tidak. Yang tidak itu yang pukul berulang-ulang. Enggak ada. Angkat air juga tidak. Injak kaki tidak. Mukul pakai rotan itu enggak. Bukan rotan. Tapi ranting kayu. Enggak tahu kalau luka-luka. Selain itu enggak tahu,” jelasnya saat dikonfrontir oleh hakim.

Baca Juga :  PILKADA KARANGANYAR 2018 : Baru Satu Nama Positif, PDIP Siapkan Survei

Dalam sidang kemarin, JPU menghadirkan enam saksi. Empat orang peserta Diksar yakni Rakesh Ryan Zeva, Landu Jiwangga, Ridho Herlanda, dan M Kadar. Dua orang lainnya adalah orangtua korban meninggal, Syaits Asyam yaitu Abdullah Ardi dan Sri Handayani.

JPU terdiri dari Anon Prihatno, Winarko, Desi Dwi Hariyani, dan Rizky Amalia sempat membacakan hasil visum dan autopsi Syaits Asyam.

Visum dari RS Bethesda menyimpulkan ditemukan luka dan memar di sejumlah bagian tubuh Asyam karena benda tumpul. Asyam juga mengalami diare dan radang paru.

Hasil autopsi dari RSUP dr Sardjito menyimpulkan terdapat luka memar di kepala dan pendarahan di atas selaput otak, gumpalan di ruang jantung.

Ahli Patologi anatomi menyimpulkan kematian Asyam karena sindro gangguan pernapasan akut sehingga organ vital kekurangan oksigen.

Wardoyo

Advertisements
BAGIKAN