JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tradisi Unik Warga Musuk Boyolali, Ratusan Sapi Diarak Demi Wujud Syukur

    Tradisi Unik Warga Musuk Boyolali, Ratusan Sapi Diarak Demi Wujud Syukur

    47
    BAGIKAN
    Sejumlah warga membawa ternak sapi saat mengikuti kirab tradisi Lebaran Sapi di lereng gunung Merapi, Sruni, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (2/7). Tradisi yang telah dilakukan turun temurun pada bulan Syawal tersebut merupakan simbol rasa syukur masyarakat setempat atas hasil ternak sapi mereka sebagai sumber penghasilan ekonomi. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/ama/17.

    Masyarakat di Kabupaten Boyolali memang banyak memiliki tradisi yang unik. Pada momen Lebaran tahun ini, seperti yang dilakukan masyarakat di Desa Sruni, Kecamatan Musuk yang berada di lereng Gunung Merapi.

    Pada saat masyarakat merayakan momentum berbagi ketupat lengkap dengan sayur, masyarakat mengajak hewan ternak jenis sapi untuk ikut merayakan Lebaran.

    Tradisi yang dikenal dengan istilah Syawalan yang tepat jatuh pada hari ketujuh bulan Syawal 1438 H/Minggu (2/7/2017) pagi, hampir semua ternak sapi milik warga di lereng Gunung Merapi sisi timur itu tampil di jalan desa.

    Ratusan ekor sapi milik warga ini bukan untuk digembalakan, namun oleh para tuannya dibawa keliling desa, tepatnya di Dukuh Mlambong Desa Seruni.

    Tradisi yang bertepatan dengan momen kupatan ini merupakan tradisi yang digelar pada setiap tahun dan sudah turun temurun dari nenek moyang desa setempat.

    Pantauan di lokasi, sapi-sapi yang mayoritas jenis sapi perah ini dikalungi dengan berbagai hiasan dari janur (bakal daun kelapa) yang dilengkapi dengan ketupat. Sedangkan pada bagian paling depan sejumlah warga tampak mengarak gunungan ketupat.

    Tradisi ini dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Dengan diawali dengan istilah kenduri di rumah masing-masing ketua RT, yang didatangi warga yang membawa ketupat lengkap dengan lauknya.

    Setelah selesai kegiatan kenduri, para warga lalu pulang dan selanjutnya membawa sapi-sapi ternaknya keluar dari kandang yang kemudian diarak keliling kampung.

    Tradisi ini juga dikenal dengan “Bakda Sapi” atau Lebaran Sapi. Hewan peliharaan lain seperi kambing pun juga ikut diarak.

    Menurut Agus S (48) warga setempat,  itu merupakan tradisi dari nenek moyang dan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Hewan ternak yang diarak, telah memberikan rezeki bagi warga.

    “Tradisi ini merupakan wujud syukur kepada Allah SWT serta untuk melestarikan tradisi nenek moyang,” terang dia.

    Pada bagian lain, Hadi S salah satu tokoh  masyarakat setempat menambahkan, tradisi itu juga menjadi wujud syukur kepada Allah SWT karena hewan ternak yang telah memberikan rezeki kepada para tuannya.

    Melalui tradisi itu juga berharap agar seluruh hewan ternak di wilayahnya selalu sehat untuk memberikan penghasilan tambahan bagi para tuannya.

    “Kami sangat berharap tradisi ini terus dilestarikan,” harap dia.  #Satria Utama