JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Wah, 8.971 M2 Tanah Di Tawangmangu Ini Terlarang Untuk Dibangun Villa

Wah, 8.971 M2 Tanah Di Tawangmangu Ini Terlarang Untuk Dibangun Villa

152
BAGIKAN
Ilustrasi Villa Tawangmangu

KARANGANYAR– Pihak Mangkunegaran menyerahkan 17.943 meter
persegi tanah schietrein atau dua pertiga asetnya kepada petani penggarap di Kelurahan Blumbang, Tawangmangu, Kamis (20/7/2017). Sementara, untuk sepertiga aset yang masih menjadi milik Pura Mangkunegaran, diharapkan tidak beralih fungsi menjadi bangunan villa atau yang lainnya.

Hal itu terungkap dari pelepasan hak atas tanah scietrein di Kantor Kelurahan Blumbang, Tawangmangu oleh Tim Pengembalian Aset Mangkunegaran ke petani kemarin. Penangung jawab Tim Pengembalian Aset Mangkunegaran, Joko Susanto, mengungkapkan ada 32 bidang dari total 17.943 meter persegi tanah yang diserahkan kepada 75 petani.

Pelepasan itu dilakukan oleh Sri Paduka Mangkunagoro IX setelah mempertimbangkan surat dari warga tentang permohonan pelepasan hak atas tanah pada 26 Mei 2017. Sehingga dari total 26.914 meter persegi aset, masih ada sepertiga atau 8.971 meter persegi yang saat ini
dikuasai warga dan masih tercatat dipergunakan oleh Pura Mangkunegaran.

“Kami berharap tanah milik Pura Mangkunegaran yang 1/3 bagian tetap
digunakan untuk pertanian. Tidak boleh difungsikan untuk lainnya, termasuk dibangun villa. Tujuannya menjaga agar lahan enggak cepat berubah fungsi. Jadi hanya untuk pertanian saja,” paparnya.

Sementara terkait pelepasan 17.943 meter persegi itu, pihak Mangkunegaran juga mengajukan tiga syarat. Pertama aset harus dibagi secara proporsional menjadi 32 bidang kepada penerima pelepasan hak
sesuai daftar. Kemudian 8.971 meter persegi akan dikembalikan kepada Pengageng Pura Mangkunegaran setelah hasil panen terakhir. Syarat ketiga segala beban biaya pengukuran, permohonan hak, dan penyertifikatan tanah menjadi beban warga penerima.

Salah satu petani penggarap, Edy Suwarnoto, menyampaikan terima kasih
kepada Pura Mangkunegaran. Dia merasa perjuangan selama 25 tahun untuk mendapatkan hak atas tanah sudah selesai. Edy menyampaikan persoalan
itu sempat berlarut-larut karena salah paham dan sejumlah pihak di luar petani penggarap dan Pura Mangkunegaran ikut campur.

“Ini sumber kehidupan utama petani. Selama 25 tahun bahkan lebih, kami ada 75 petani yang menggarap tanah itu. Luasnya nggak sama. Ada yang 300 meter persegi sampai 1.000 meter persegi. Semoga mendapatkan berkah,” ujarnya. Wardoyo