Wisata Budaya di Kota Solo Belum Optimal

Wisata Budaya di Kota Solo Belum Optimal

73
Ilustrasi | Dok Joglosemar

SOLO– Wisata budaya di Indonesia belum tergarap secara optimal. Padahal wisata budaya merupakan salah satu modal pengembangan pariwisata. Sementara itu pemkot Surakarta terus berupaya memaksimalkan wisata budaya yang ada.

Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Budaya menuturkan, wisata budaya masih menjadi andalan di komunitas ASEAN. Sebanyak 60 persen kunjungan wisatawan dari berbagai belahan negara ke Asia Tenggara karena daya tarik wisata budaya.

Di rumpun ASEAN, Vietnam sangat gencar pengembangan wisata budaya. Tak sia-sia pergerakan wisatawan di Vietnam naik 36 persen. Sebaliknya dari data kajian kementerian pariwisata tahun 2016 pergerakan wisatawan ke Indonesia hanya 15 persen.

Menurut Lokot hal ini menggambarkan tradisi, seni dan budaya sangat menjadi andalan dalam pengembangan pariwisata. “No culture no truism. Oleh karena wisata budaya harus dikembangkan secara profesional,” ujarnya di sela Seminar Pengembangan Wisata Budaya di Hotel Solo View, Jumat (28/7/2017)

Lokot menambahkan saat ini wisata budaya di Indonesia baru berkembang di sejumlah kota, di antaranya Solo, Jogja, Jember dan Malang. Sedangkan di luar pulau Jawa hanya Bali yang tampak gencar mengembangkan wisata budaya.

Lambatnya perkembangan wisata budaya lantaran dinilai belum secara langsung berdampak pada peningkatan ekonomi. Padahal jika atraksi wisata budaya dapat di kemas secara kreatif hal ini akan mengundang daya tarik wisatawan. “Oleh karena itu pelaku seni harus sinergis dengan pemerintah sehingga promosinya bisa optimal,” imbuhnya.

1
2
BAGIKAN