JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen 30.000 Warga Sragen Ternyata Masih Buta Huruf. Peringkat Kedua Tertinggi di Jateng

30.000 Warga Sragen Ternyata Masih Buta Huruf. Peringkat Kedua Tertinggi di Jateng

109
BAGIKAN
Para siswa bersama guru SMPN 1 Masaran bersama-sama membaca Harian Joglosemar dalam kegiatan literasi sekolah bertajuk Menumbuhkan Budaya ‘Ayo Membaca Literasi’ di Halaman SMPN 1 Masaran, Jumat (11/8/2017) pagi. Foto : Wardoyo

SRAGEN– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen menyatakan angka buta huruf di Sragen masih mencapai 30.000 jiwa dan pernah menduduki peringkat kedua tertinggi di Jateng. Kepala Disdikbud yang baru dilantik, Suwardi pun mewacanakan akan mengoptimalkan program kejar paket untuk menekan angka buta huruf tersebut.

“Angka buta huruf masih sekitar 30.000 jiwa. Memang sempat masuk terbanyak ke-2 di Jateng. Tapi itu kan statistik yang kadang hanya didata tapi kemudian mandeg dan tidak ada pendataan lagi. Padahal realita di lapangan itu kan dinamis,” paparnya kepada wartawan, Senin
(21/8/2017).

Ia menyampaikan data buta huruf itu mayoritas terjadi pada warga usia lanjut di atas 50 tahun yang memang secara kompetensi sudah tidak bisa dan tidak mau lagi untuk mengikuti program kelompok belajar (Kejar).

Hal inilah yang membuat angka buta huruf itu sulit untuk diberantas kecuali memang generasi lanjut itu sudah meninggal.

Dari sebaran, mayoritas buta huruf itu memang berada di wilayah kecamatan pinggiran. Meski demikian, pihaknya menarget melalui pemberdayaan kejar paket A dan C, setidaknya bisa menekan angka buta huruf yang ada.

“Kalau buta huruf usia sekolah hampir tidak ada. Angka putus sekolah kita hanya nol koma nol berapa persen gitu. Itu biasanya karena anaknya memang berkebutuhan khusus atau karena kasusistik seperti menjadi korban kekerasan seksual dan terpaksa harus berhenti sekolah dulu. Tapi kami tetap upayakan bisa lanjut sekolah,” jelasnya.

Terkait tugas yang dibebankan oleh bupati agar Kadisdik baru bisa menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM),Suwardi menyampaikan IPM Sragen saat ini sebenarnya tidak terlalu jelek karena ada di peringkat 17 se-Jateng dengan IPM 7,2. Namun ia menekankan bahwa IPM itu
merupakan gabungan dari empat indikator dan pendidikan hanya satu diantaranya.

Tiga indikator yang lain adalah kesehatan, ekonomi dan satu aspek lainnya. Jadi untuk menaikkan IPM memang butuh sinergitas empat indikator itu. (Wardoyo)