JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen 830 Balita di Sragen Kekurangan Gizi, Tertinggi Kalijambe dan Gemolong

830 Balita di Sragen Kekurangan Gizi, Tertinggi Kalijambe dan Gemolong

96
ilustrasi

SRAGEN—Sebanyak 830 anak balita di wilayah Sragen dilaporkan menderita kekurangan gizi. Mereka tersebar di hampir semua kecamatan dengan faktor ketidakpahaman tentang pola asuh dan asupan bayi menjadi pemicu utamanya.

Fakta itu terungkap dari data yang terekam di Bidang Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen.

Kabid Promkes DKK Sragen, Fanni Fandani mengungkapkan, meski mencapai ratusan, namun secara persentase masih relatif kecil karena hanya 1,2 persen jika dibanding dengan jumlah total bayi dan balita yang mencapai 64.654 anak di Kabupaten Sragen.

Angka itu juga dinilai masih jauh di bawah angka kurang gizi secara nasional yang mencapai 19,6 persen.

“Untuk sebarannya ada di semua kecamatan. Tapi yang paling banyak memang di kecamatan perbatasan yang jumlah penduduknya juga besar. Tertinggi di Kecamatan Kalijambe 17,7 persen, diikuti Gemolong 11,3 persen, dan Jenar 7,2 persen,” ungkapnya, Selasa (8/8/2017).

Menurut Fanni, kasus kekurangan gizi diketahui saat dilakukan penimbangan dan pengecekan balita setiap bulan di posyandu.

Ciri-ciri dari kekurangan gizi ditunjukkan dengan berat badan yang berada di bawah garis merah atau kurang dari standar deviasi berat badan standar yang ada di Kartu Menuju Sehat (KMS).

Ia menguraikan, kasus kekurangan gizi itu tidak melulu melanda balita di perdesaan. Akan tetapi, tidak sedikit kasus yang ditemukan di wilayah perkotaan.

Hal itu dikarenakan kasus kekurangan gizi terjadi akibat ketidakpahaman atau kesalahan pola asuh, mulai dari asupan ibunya ketika hamil hingga asupan bayi ketika lahir.

“Pola asuh itu ya menyeluruh, termasuk di dalamnya pola makan. Jadi bukan karena kekurangan makanan. Makanya pemahaman soal pola asuh ini penting. Bahkan sejak remaja sudah kita gencarkan sosialisasi pentingnya persiapan, kemudian ketika hamil asupannya juga diperhatikan. Sehingga kalau kehamilannya sehat, otomatis bayinya nanti leh ngopeni juga gampang,” jelasnya.

Terkait penanganan kasus kurang gizi itu, sejauh ini terus dilakukan melalui program pemberian makanan tambahan (PMT), baik perbaikan maupun pemulihan. Semua balita kurang gizi bakal diberikan bantuan asupan senilai Rp 8.000 selama satu bulan.

Wardoyo

BAGIKAN