JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pendidikan Aksi Damai Nahdlatul Ulama Tolak Full Day School di Solo

Aksi Damai Nahdlatul Ulama Tolak Full Day School di Solo

65
BAGIKAN
ilustrasi. foto grafis : dok

SOLO – Sekitar 25.000 umat Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti aksi damai di Solo, Kamis (24/8/2017). Mereka turun langsung ke jalan untuk menolak Permendikbud 23/2017, yakni Full Day School (FDS). Aksi damai ini dilakukan dari Sriwedari – Gladag dan finis di Masjid Agung Surakarta.

Dari pantauan Joglosemar, mereka meneriakkan “NU Solo Raya! Kami tolak FDS!” kalimat pembakar semangat itulah yang diiteriakkan lantang para peserta.

Mereka yang datang dari seluruh penjuru wilayah sambil meneriakkan yel-yel dan membawa sejumlah spanduk. Di antaranya Nahdliyin menolak FDS karena hancurkan generasi Islam, FDS membuat kami tidak bisa ngaji, batalkan Permendikbud no 23 tahun 2017, dan lain sebagainya.

Salah satu peserta aksi damai, Siti Rofiah yang berasal dari Sragen mengatakan aksi tersebut dalam rangka menyuarakan aspirasi untuk menolak kebijakan FDS.

“Ketika berfokus pada waktu di sekolah dari pagi hingga sore, kesempatan mengaji, beribadah kami kurang. Padahal untuk membangun diri bukan hanya ilmu akademik saja yang harus kami pelajari namun juga ilmu agama untuk kebaikan akhlak kami dalam rangka membangun diri, “ujarnya kepada Joglosemar saat ditemui di lokasi aksi damai Sriwedari, Kamis (24/8/2017).

Adanya kebijakan FDS juga berdampak terhadap beban orangtua untuk menambah uang jajan anaknya. Siti Aminah warga Sukoharjo yang mengikuti aksi damai tersebut berujar dengan adanya FDS jadi menambah biaya.

Banyak anak yang sudah tidak lagi masuk ke Taman Pendidikan Alquran (TPA) sore hari karena kelelahan mengikuti pelajar sekolah hingga sore hari.

“Pondok pesantren pun terancam gulung tikar. Bagaimana anak kita belajar agama kalau mereka seharian di sekolah,” katanya.

Sementara itu KH Muhammad Mahbub, Ketua Panitia aksi damai tersebut mengatakan kebijakan FDS membuat anak-anak atau siswa tidak dapat berinteraksi dengan lingkungan dan tidak dapat mengikuti pengajian sore hari.

“Padahal kita tahu bagaimana membangun bangsa Indonesia bukan hanya membangun intelektual dan fisik saja. Tetapi juga membangun nilai-nilai spiritual dan mendidik mereka membangun moralitas yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak tahun tradisi pendidikan dengan metode pondok pesantren dan madrasah diniyah baik yang dilakukan secara formal maupun secara kultur di surau dan masjid terbukti membentuk bangsa yang berkarakter dan menghargai perbedaan dengan arif.

Sementara itu, KH Mubarok selaku Ketua Koordinator PCNU Solo Raya mengatakan walaupun Presiden Jokowi mengatakan FDS salah satu dari unsur Nawacita yakni Revolusi Mental namun tetap saja mengorbankan karakter pendidikan yang sudah terbentuk.

“Presiden memang memberikan keleluasaan bagi sekolah yang ingin menerapkan maupun tidak, tapi hal itu malah menjadi rancu karena nantinya akan menjadi stigma tersendiri bagi sekolah yang tidak menerapkan karena dinilai negatif,” ujarnya.

Aksi tersebut akan dilakukan dengan cara melakukan long march mulai dari Stadion Sriwedari menuju Bundaran Gladak.

Setelah mengutarakan aspirasi di Bundaran Gladak, puluhan ribu masa aksi akan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Solo guna melakukan istighosah. Selama aksi berlangsung, perserta hanya berjalan kaki.

Garudea Prabawati