JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Aksi Unik Warga Sambirejo Perangi Peracun Ikan dan Pengotor Sungai

Aksi Unik Warga Sambirejo Perangi Peracun Ikan dan Pengotor Sungai

155
BAGIKAN
LAWAN PERUSAK LINGKUNGAN- Sejumlah pemuda di Desa Jambeyan, Sambirejo saat menggelar aksi menebar benih ikan dan memasang spanduk larangan meracun ikan sebagai gerakan moral untuk menghentikan praktik peracunan dan penyetruman ikan di Sungai Klegung, wilayah setempat, Selasa (29/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– “Dulu, sungai-sungai di wilayah kami jernih dan ikan-ikan alami menghiasinya. Namun sekarang, semua tinggal kenangan saja”. Begitulah ungkapan kekecewaan yang terlontar dari remaja dan warga Dukuh Sunggingan RT 11, Desa Jambeyan, Sambirejo, Selasa (29/8/2017) pagi.

Pagi itu mereka menyusuri Sungai Klegung atau Buk Urung yang ada di wilayah setempat. Ada yang memunguti sampah-sampah dalam pastik yang berserak dan teronggok di tepian, ada pula yang mengumpulkannya dimasukkan ke dalam karung.

Selesai terkumpul, sampah-sampah buangan dari oknum tak bertanggungjawab itu kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar. Sekelompok pemuda lainnya menebar benih ikan berbagai macam yang dibeli dari urunan.

“Kami terus terang prihatin dengan ulah oknum-oknum yang terus membuang sampah sembarangan di sungai. Hari ini semua pemuda akhirnya tergerak melakukan aksi moral bersih sampah. Mudah-mudahan pembuangnya bisa segera tersadar sehingga tidak lagi mengotori sungai yang bisa memicu banjir,” ujar tokoh pemuda setempat, Giyono, kemarin.

Sementara, aksi tabur benih ikan itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali eksosistem alami sungai yang beberapa tahun terakhir dirusak oleh para peracun dan penyetrum ikan. Giyono menuturkan hampir setiap hari, tiga kali sungai itu diracun dan diestrum para pencari ikan sehingga selain airnya tercemar, ikannya pun juga mati semua.

“Orangnya ganti-ganti tapi kebanyakan dari luar desa kami. Disetrum dan diracun pakai pestisida. Jelas semua ikan mati. Makanya dengan gerakan ini, kami mengajak semua warga dan pemuda untuk sadar dan melawan oknum perusak ekosistem sungai,” tukasnya.

Ia menuturkan sungai Klegung itu juga menyimpan nilai historis karena berulangkali gagal dibangun jembatan. Menurutnya pada jaman penjajahan dulu sempat diupayakan akan dibangun jembatan tapi kemudian didatangi Raja Surakarta dan dikutuk tidak jadi jembatannya.

“Setelah berhasil dibangun dinamakan Jembatan Sidodadi. Makanya sudah seharusnya kita jaga bersama,” timpal Rosyid, pemuda lainnya.

Aksi ditutup dengan memasang spanduk peringatan dan larangan meracun ikan dan buang sampah di sungai tersebut. Wardoyo