JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Banyak Petani Sragen Tewas Gara-Gara Elpiji, Bupati Minta Bantuan Ini ke Kementerian...

Banyak Petani Sragen Tewas Gara-Gara Elpiji, Bupati Minta Bantuan Ini ke Kementerian ESDM

222
BAGIKAN
Ilustrasi Grafis. Foto : Wardoyo

SRAGEN– Insiden kematian tragis petani yang terbakar atau tewas di dalam sumur saat menghidupkan mesin disel berbahan elpiji di DesanTenggak, Sidoharjo langsung memantik respon dari pemerintah. Pemkab
melalui Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati langsung mengajukan usulan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait bantuan mesin pompa air disel yang didesain khusus berbahan gas elpiji.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sragen, Muh Djazairi, Rabu (23/8/2017). Ia mengatakan banyaknya kasus petani yang tewas terbakar atau kehabisan oksigen saat berada di dalam sumur mesin disel berbahan elpiji, memang menjadi keprihatinan tersendiri. Menurutnya,
kebiasaan petani di sebagian daerah yang menggali sumur cukup dalam dan memasang disel berbahan elpiji itu memang sangat berisiko.

Akan tetapi, pemerintah juga tak bisa serta merta melarang atau menghentikannya, mengingat realitanya hampir sebagian besar petani di wilayah non irigasi, memang melakukannya. Selain itu, penggunaan bahan bakar gas elpiji untuk mesin disel pompa air, juga dinilai justru membantu petani karena menghemat biaya produksi.

“Justru kita sedang menggagas mendorong pemerintah pusat untuk mengadakan program pengalihan bahan bakar untuk pertanian dari bensin ke gas. Kita kemarin sudah mengajukan proposal ke Kementerian ESDM pusat, atas nama Bupati Sragen, intinya meminta bantuan 100 unit mesin pompa air khusus yang sudah langsung didesain memakai alat converter
(pengonversi) bahan bakar elpiji. Jadi bahan bakarnya tetap pakai elpiji,” paparnya.

Menurut Djazairi, usulan mesin berbahan elpiji itu dinilai sebagai alternatif solusi yang aman dan menghemat bagi petani yang selama ini menyedot air irigasi dari sumur. Pemerintah memang mendorong penggunaan elpiji karena selama ini, bahan bakar bensin untuk konsumsi pertanian juga sudah sulit.

Diharapkan wacana pengalihan bahan bakar bensin ke gas elpiji itu bisa disetujui oleh kementerian ESDM. Selain ke ESDM, usulan pengalihan ke elpiji itu juga akan dikoordinasikan dengan Pertamina sehingga ke depan ada kuota khusus elpiji untuk pertanian, sehingga tidak
mengurangi atau menggangu ketersediaan elpiji untuk konsumsi rumah tangga.

“Jadi mesin disel yang kita usulkan itu nanti sudah dipasangi alat khusus pengkonversi gas elpiji. Sehingga aman, kalau selama ini kan mesin diselnya petani itu kan masih memakai desain bahan bakar bensin sehingga ketika diganti elpiji, maka rawan meledak atau bocor,” tukasnya.

Wacana itu disambut positif kalangan masyarakat. Kades Tenggak, Setyanto mendukung wacana tersebut. Ia juga berharap ada solusi yang aman bagi petani yang sebagian memang terpaksa beralih memakai bahan bakar elpiji untuk mesin disel pompa air mereka.

Jika ada mesin yang sudah didesain dengan bahan bakar gas, hal itu akan sangat membantu petani dan menghindari kecelakaan fatal kebakaran atau kehabisan oksigen yang selama ini banyak merenggut nyawa petani.

“Terus terang, musibah yang menimpa Pak Giman itu sebenarnnya sudah sering terjadi di wilayah kami. Tapi meskipun resikonya berbahaya, petani sudah menyadari, tapi mau bagaimana lagi karena petani itu yang penting bisa nyedot dan panen. Makanya kalau ada mesin yang sudah khusus gas, itu malah bagus,” tegasnya.

Ia menambahkan jumlah areal pertanian di Desa Tenggak sekitar 200 hektare. Selama ini mayoritas petani memang menggunakan mesin disel untuk menyedot air sumur yang digali berkedelaman di atas 3 meter. Wardoyo