JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Bekas Anak Buah Nurdin M Top Pun Pekikkan Merdeka…!!

Bekas Anak Buah Nurdin M Top Pun Pekikkan Merdeka…!!

49
BAGIKAN
Joglosemar | Wardoyo
KEMBALI KE NKRI—Tiga mantan napi teroris jaringan Noordin M Top asal Karanganyar memekikkan kata merdeka dan komitmennya kembali ke NKRI bersama Kapolres dan Dandim usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Karanganyar, Kamis (17/8/2017)

Suasana peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, Kamis (17/8/2017), terasa paling berbeda di antara peringatan sebelum-sebelumnya. Di tengah ancaman disintegrasi yang belakangan mencuat, sejumlah pihak mencoba membangkitkan semangat nasionalisme lewat caranya masing-masing.

Salah satunya dilakukan oleh jajaran Forkompida Kabupaten Karanganyar. Sehari setelah diguncang penangkapan terduga teroris di wilayah Karangpandan, Pemkab bersama Polres dan Kodim langsung berinisiatif menutupnya dengan mengundang tiga mantan napi teroris asal Bumi Intanpari untuk bergabung mengikuti upacara detik-detik proklamasi di Alun-alun Karanganyar.

Ide unik menghadirkan tiga orang mantan napi yang pernah terlibat jaringan teroris paling berbahaya di negeri ini itu, tak pelak langsung memantik perhatian dari peserta upacara yang hadir. Ketiga napi eks teroris yang dihadirkan itu masing-masing Surono alias Fadli alias Satria alias Abdul Bari. Pria asal Dukuh Sawahan, Kelurahan Tegalgede, Karanganyar itu pernah dipenjara karena keterlibatannya menyediakan rumah tempat tinggalnya sebagai lokasi rapat peledakan bom di Hotel JW Marriot pada tanggal 6 Agustus 2003.

Dia menjalani kurungan penjara 5 Tahun dan mendapat bebas bersyarat pada tanggal 21 Januari 2007. Eks napi kedua adalah Joko Wibowo alias Abu Sayyaf. Pria asal Dukuh Grumbulrejo, Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo ini merupakan jaringan teroris paling berbahaya, Noordin M Top dan bebas bersyarat pada 12 Agustus 2015 setelah menjalani 14 tahun penjara.

Mantan napi teroris ketiga adalah Priyatmo alias Mamo alias Amar. Pria asal Dusun Ngrancak, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi ini bebas 9 Maret 2015 setelah menjalani putusan 5 tahun 6 bulan akibat terlibat menyimpan senjata api dan amunisi yang rencananya akan digunakan untuk menyerang polisi dan anggota JIL (Jaringan Islam Liberal).

Ketiganya hadir atas undangan Polres Karanganyar untuk mengikuti upacara. Meski berlabel mantan napi teroris, mereka terlihat sudah melepaskan riwayat menyeramkan dan tampak khidmat mengikuti rangkaian upacara yang dipimpin Bupati Karanganyar, Juliyatmono. Mereka juga tampak memekikkan kata merdeka sebagai simbol kembalinya semangat untuk menjadi bagian dari NKRI. Selesai pelaksanaan upacara, ketiga orang tersebut terlihat foto bersama Kapolres dan Dandim, sembari menyatakan komitmen dan kesetiaannya untuk NKRI.