JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Belasan Peternak Tanon, Sragen Jadi Korban Sindikat Dagang Sapi Kurban. ...

Belasan Peternak Tanon, Sragen Jadi Korban Sindikat Dagang Sapi Kurban. 3 Peternak Dibuang di Jalan, 6 Sapi Dilarikan

1795
BAGIKAN
KORBAN SINDIKAT- Kondisi kandang sapi milik Sutarno, peternak asal Ngamban, Gawan, Tanon, hanya menyisakan satu anak sapi setelah beberapa ekor sapi besarnya menjadi korban sindikat dagang untuk kurban yang menipu banyak peternak, Senin (14/8/2017).Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Belasan peternak sapi di berbagai desa di Kecamatan Tanon, Sragen menjadi korban sindikat penipuan berkedok dagang sapi
untuk kurban. Tidak hanya membawa kabur enam ekor sapi milik peternak, tiga orang peternak asal Dukuh Ngamban, Desa Gawan juga digendam dan dibuang di tengah jalan ketika dijanjikan pembayaran.

Beruntung, tiga peternak itu masih bisa selamat dan pulang ke Sragen. Dari enam ekor sapi yang sudah dibawa oleh pelaku, terlacak dijual di bawah tangan oleh para pelaku kepada pedagang di wilayah Jenawi, Karanganyar.

Sedangkan 6 ekor sapi lainnya yang sudah sepakat harga, selamat karena belum sempat dibawa. Para korban menduga pelaku menggunakan modus gendam karena selama proses transaksi hingga dijanjikan mengambil uang, mereka merasa hanya menurut saja.

Aksi penipuan itu terungkap ketika para korban melaporkan kejadian yang menimpa mereka ke Polsek Tanon. Salah satu korban, Sutarno (45), warga Dukuh Ngamban RT 7, Desa Gawan, Tanon mengungkapkan sindikat itu digawangi oleh pelaku yang mengaku sebagai pedagang sapi kurban bernama Agung asal Semarang.

Seusai melapor ke Polsek, ia menyampaikan kejadian penipuan bermula
saat Jumat (11/8/2017), dirinya didatangi oleh orang bernama Agung yang
mengaku sebagai pedagang sapi kurban yang akan dibawa ke Jakarta. Saat datang, oknum itu bersama dua pria rekannya mengendarai mobil Avanza.

“Dia (Agung) ngakune dagang besar asal Semarang. Lagi nyari sapi yang besar untuk kurban. Butuh sapi banyak. Lalu di sini (Gawan) dapat enam ekor. Dua sapi milik saya dibeli Rp 45 juta, satu sapi milik tetangga saya, Sobirin dan Sugimin sepakat dibeli masing-masing Rp 22,5 juta dan Rp 19,7 juta. Lalu satunya lagi milik Maryadi dibeli RP 21,5 juta dan Sarindi dibeli Rp 18 juta,’ paparnya seusai dari Polsek, Senin (14/8/2017).

Dari enam ekor sapi milik lima peternak itu, pelaku sepakat membeli senilai total Rp 126 juta. Kepada peternak, pelaku mengatakan begitu sapi diambil, uang akan langsung dibayarkan. Untuk mengelabuhi mereka, pelaku sempat memberi uang muka Rp 100.000 setiap ekor sapi namun sebagian tidak diberi.

Tidak hanya itu, dalam sehari itu, pelaku juga sepakat membeli enam ekor sapi milik warga Desa Kecik, Tanon seharga total Rp 100 juta lebih. Masing-masing milik Najib asal Kutukan, Kecik sebanyak dua ekor dibeli Rp 43 juta, milik Ali Murtopo, Karangkulon, Kecik seharga Rp 19 juta, dan milik Hanto Sugimin, Karangkulon, Kecik seharga Rp 46 juta dua ekor. Masing-masing juga diberi uang muka Rp 100.000 namun ada
juga yang tidak diberi. Dan masih ada beberapa ekor lagi milik peternak Sidoharjo, yang sudah sepakat harga juga.

Setelah dapat 12 sapi, kemudian pelaku datang lagi Sabtu (12/8/2017) untuk
mengambil enam ekor sapi milik peternak di Gawan. Dengan truk milik warga Gawan, pelaku minta sapi dikirim ke Bekonang, Sukoharjo. Saat diminta bayaran, pelaku beralasan uangnya masih di rumah Semarang dan minta ada tiga peternak yang ikut untuk mengambil uang.

“Ternyata sapi tidak dibawa ke Bekonang, tapi diantar ke Jenawi. Sampai di sana sapi dioper ke pedagang sana namanya Joko. Di situ Agung transaksi sendiri dengan Joko. Lalu saya, Pur dan Maryadi lalu diajak satu mobil dengan pelaku Agung makan bakso di Sidoharjo, Sragen. Tapi waktu kami minta uang pembayaran sapinya, dia bilangnya uangnya di rumah Semarang dan kami diminta ikut mengambil ke Semarang,” tutur Sutarno.

Di warung bakso itu, pelaku sempat hendak memberikan uang Rp 65 juta namun ditolak karena peternak meminta dibayar semua Rp 126 juta. Ketiganya kemudian diajak ke Semarang, akan tetapi bukan dibayar uangnya mereka malah diturunkan paksa di wilayah Pedurungan, Semarang.

Sempat bisa dikontak, pelaku kemudian mematikan HP sehingga ketiga peternak akhirnya terlantar di Semarang. Merasa sudah ditipu, mereka langsung menyewa taksi pulang ke Sragen dan menuju Polsek Tanon untuk melaporkan kejadian itu pada Sabtu (12/8/2017) dinihari.

“Kalau yang enam sapi trip kedua belum dibawa. Yang dibawa baru enam sapi. Malam itu juga kami bersama Polsek Tanon melacak ke Jenawi ternyata yang satu ekor sapi mati dan dijual ke jagal. Hanya tinggal lima,” terang Pur.

Sutarno dan beberapa peternak mengaku merasakan ada keanehan semacam digendam dalam proses transaksi. Karena sejak kedatangan pelaku, hampir semua peternak yang sapinya dibeli merasa hanya menurut dan tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk ketika sapi dibawa padahal uang belum dibayar.

“Kalau harganya itu wajar harga umum. Tapi kami seakan-akan enggak bisa berontak. Adanya nggih nggih dan manut saja. Saya sadarnya ketika sudah ada di Semarang, lalu si Agung itu dijemput temannya alasannya mau ke Pom Bensin. Saat itu saya baru sadar ternyata mereka memang mau menipu. Kami hanya minta sapi kami kembali karena pelaku sudah menipu
dan merugikan peternak. Jangan sampai timbul korban lebih banyak lagi,” tukasnya.

Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman mengatakan saat ini tim dari Polsek Tanon dan Polres Sragen sedang mengusut kasus itu dan sudah berkoordinasi dengan Polsek Jenawi. Ia memastikan akan langsung menindaklanjuti dan mengungkap pelaku sindikat penipuan itu.

Senada, Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak menyampaikan karena locus delicty kejadian awalnya di Sragen, maka penanganan kasus itu menjadi kewenangan Polres Sragen. Namun pihaknya siap jika dimintai bantuan dan Polsek Jenawi juga sudah memastikan keberadaan enam ekor sapi milik korban asal Sragen itu. Kapolsek Jenawi, AKP Iwan menyampaikan Kanit reskrimnya bersama tim dari Polsek Tanon, Sragen
sedang berkoordinasi untuk melakukan survei ke lokasi keberadaan sapi yang dibeli sindikat pelaku dan berada di Jenawi itu.

“Kami masih menunggu laporan dari Kanit saya yang ke lapangan mengecek bersama Polsek Tanon,’ jelasnya. Wardoyo