JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Cabuli 4 Siswinya, Hukuman Guru CPNS Ini Ditambah 1/3

Cabuli 4 Siswinya, Hukuman Guru CPNS Ini Ditambah 1/3

134
BAGIKAN
BARANG BUKTI—Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak menunjukkan barang bukti kasus pencabulan

KARANGANYAR– Kementerian Agama (Kemenag) Karanganyar memastikan guru sebuah madrasah ibtidaiyah (MI) di wilayah Karanganyar,
berinisial AS (47) yang ditetapkan tersangka pencabulan empat siswinya, masih berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS). Karenanya atas kasus hukum yang dilakukannya itu, yang bersangkutan berpeluang besar dicoret atau gagal untuk diangkat menjadi PNS.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Karanganyar, Mustain, Senin (21/8/2017). Kepada Joglosemar, ia mengatakan AS masih berstatus CPNS dan sedang dalam tahapan menuju untuk diangkat menjadi PNS. Karenanya, kasus pencabulan yang dilakukannya itu memang akan memperberat peluangnya untuk bisa menyandang status PNS.

Bahkan, mengacu pada aturan, yang bersangkutan justru bisa terancam sanksi hingga yang terberat adalah pemberhentian tidak dengan hormat atau gagal diangkat PNS. Namun, sanksi itu baru akan diambil setelah ada putusan hukum tetap dan proses peradilan selesai.

“Dia belum PNS, tapi baru proses ke PNS. Makanya kita seiring dengan proses hukum di pengadilan. Kita hormati prosesnya nanti bagaimana putusannya, baru kita ambil keputusan untuk sanksinya. Semua tergantung bobot pelanggarannya. Sanksinya paling ringan teguran tertulis, paling berat diberhentikan. Karena dia CPNS, berarti bisa tidak diangkat PNS, “ paparnya kemarin.

Mustain menggaransi pihaknya tetap akan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Sementara, untuk memberi kesempatan tersangka lebih fokus menghadapi proses hukum, tersangka sudah ditarik dan dibebastugaskan dari tugasnya sebagai pengajar.

Terpisah, Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri SImanjuntak melalui Kasat Reskrim AKP Gede Yoga Sanjaya menyampaikan saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelesaian berkas dan pekan ini diharapkan sudah bisa dinaikkan ke jaksa. Ia memastikan sejauh ini belum ada laporan korban lagi selain empat siswi yang sebelumnya.

Mengacu aturan, karena pelaku notabene merupakan guru atau pendidik, maka hukumannya bakal ditambah 1/3 dari ancamannya. Tersangka bakal dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 UU RI No 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana paling lama 15 tahun ditambah sepertiganya lagi atau lima tahun. (Wardoyo)