JOGLOSEMAR.CO Foto Dalam Sepuluh Tahun, 47 Persen Mata Air di Eks Karesidenan Surakarta Hilang

Dalam Sepuluh Tahun, 47 Persen Mata Air di Eks Karesidenan Surakarta Hilang

45
BAGIKAN
Telaga Waru di Wonogiri yang beberapa tahun lalu jadi salah satu sumber air bagi warga desa Johunut Wonogiri. Foto : Dok

SOLO – Jumlah mata air yang ada di wilayah eks Karesidenan Surakarta mengalami penurunan sebanyak 47 persen dalam rentang 10 tahun terakhir.

Penurunan terjadi sebanyak 198 mata air yaitu dari 421 mata air pada tahun 2006 menjadi 223 mata air pada tahun 2016.

Dari total jumlah penurunan mata air tersebut, 47 persen di antaranya terjadi di wilayah Wonogiri. Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS), Nur Sumedi mengungkapkan, fenomena penurunan jumlah mata air terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

“Dan harus segera ditanggulangi karena mampu memicu kekeringan jika terus dibiarkan. Maka diperlukan upaya pelestarian mata air yang tersisa sehingga penurunan kualitas, kuantitas dan kontinuitas mata air tidak berlanjut,” ujarnya, Rabu (16/8/2017).

Terkait hal itu, lanjut Nur, Tim BPPTPDAS telah melakukan kajian di beberapa mata air yang ada di wilayah eks Karesidenan Surakarta sehingga diketahui 15 jenis pohon yang dapat berfungsi sebagai pelindung mata air.

Pohon-pohon tersebut yaitu aren, gayam, kedawung, trembesi, beringin, elo, preh, bulu, benda, kepuh, randu, jambu air, jambu alas, bambu dan picung.

“Penurunan mata air ini sudah berada dalam tahap kritis dan mengkhawatirkan. Dan penanaman pohon merupakan salah satu cara merawat dan melestarikan mata air. Penanaman itu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penanaman di sekitar titik mata air radius 10-15 meter sebagai spring protection dan penanaman di area imbuhan air tanah sebagai spring shed protection,” papar Nur.

Nur menambahkan, pihaknya akan terjun dan memulai sosialisasi untuk segera menyebarkan informasi terkait 15 jenis pohon yang mampu melindungi mata air tersebut. Selain melalui UPT internal, pihaknya juga akan bekerja sama dengan stakeholder untuk meyosialisasikannya.

“Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Karena diketahui, penanaman jenis-jenis pohon tersebut di kawasan mata air yang telah mati baru dapat memunculkan mata air selama 15 tahun ke depan,” tukasnya.

Tim BPPTPDAS yang terdiri dari Dody Yuliantoro, Bambang Dwi Atmoko dan Siswo mengkaji jika pohon-pohon jenis tersebut ditanam di sekitar mata air atau sungai, paling tidak bisa menjaga keberadaan sumber air di masa kekeringan.

“Selain berfungsi sebagai pelindung mata air, beberapa jenisnya juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi seperti, pohon Aren, gayam, kepuh, randu, bambu, picung (kluwak), trembesi, dan jambu air. Dengan menanam seperti ini nantinya juga bisa bernilai bagi warga setempat untuk mendongkrak sumber pendapatan masyarakat,” tandasnya.

Triawati Prihatsari Purwanto