JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Di Era MEA, Daerah Harus Pinter Gali Potensi

Di Era MEA, Daerah Harus Pinter Gali Potensi

23
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo

SOLO – Deputi Gubernur BI Bidang Sistem Pembayaran, Sugeng menegaskan dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini daerah-daerah harus pandai mencari sumber-sumber pendapatan guna pembangunan. Hal ini agar tidak ketinggalan dengan kota besar yang mampu bergerak cepat dalam roda perekonomiannya.

“Menciptakan lapangan kerja bisa sangat potensial di daerah. Terutama dengan dorongan kemudahan kredit oleh perbankan. Penurunan 7-Day Reverse Repo Rate atau 7-DRR sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen sebagai salah satu upaya pemerintah mendorong stimulus pemacu kredit perbankan,” kata dia ketika berdialog dengan karyawan BI Solo dan penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), Kamis (24/8/2017). Kegiatan ini digelar oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Solo.

Sementara itu Kepala Kantor BI Solo Bandoe Widiarto mengatakan Surakarta memiliki daerah dengan karakteristik masing-masing, ini menjadi kekuatan yang potensial bagi kemajuan perekonomian. Seperti di Solo, Kota Solo yang tidak punya Sumber Daya Alam (SDA) bisa menggenjot sektor jasa dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) untuk mencari pendapatan semaksimal mungkin. Sebab MICE mempunyai multiplayer effect. Di samping itu juga masih ada pembangunan infrastruktur, meski tidak banyak.

“Bagi kabupaten sekitar Solo seperti Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Klaten bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada, selain industri manufaktur, dan lainnya,” kata dia.

Bandoe mengakui, kinerja perbankan di Solo dan nasional pada semester pertama tahun ini tidak begitu menggembirakan. Pada akhir Juni 2017, realisasi kredit yang disalurkan cenderung mengalami penurunan. Pertumbuhannya hanya mampu bertengger di angka satu digit, yakni 8,79 persen. Angka ini turun drastis jika dibanding periode yang sama tahun lalu yang mampu mencapai 15,70 persen.

Berdasar jenis penggunaan, penyaluran pembiayaan di Surakarta masih didominasi kredit modal kerja yang mencapai 56,65 persen. Kemudian diikuti kredit konsumsi 23,71 persen dan kredit investasi 19,64 persen. Saat ini perbankan lebih memfokuskan diri melakukan konsolidasi internal, untuk menjaga angka NPL (non performing loan) atau kredit macet agar tidak terus meningkat.

Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Surakarta kondisinya jauh lebih parah. Pertumbuhan DPK pada akhir Juni 2017 hanya 3,42 persen (yoy), jauh lebih rendah dibanding 18,40 persen (yoy) pada periode Juni 2016. DPK perbankan di Surakarta masih didominasi tabungan dengan pangsa sebesar 50,24 persen, diikuti deposito dan giro.

Dalam program PSBI diserahkan bantuan kepada TK Islam Terpadu Al Madinah Boyolali sebesar Rp 21.156.000, untuk pembangunan gedung kelas. PKK Nila Murni Desa Ponggok, Kec  Polanharjo, Kabupaten Klaten Rp 25.000.000 sebagai bantuan alat produksi pengolahan makanan. Madrasah Ibtidaiyah  Darussalam 01 Sukoharjo Rp 25.000.000, yakni bantuan rehabilitasi ruang kelas. # Garudea Prabawati