JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Ditarik Infak Rp 1 Juta, Wali Keluarga Miskin Resah

Ditarik Infak Rp 1 Juta, Wali Keluarga Miskin Resah

73
ilustrasi

KARANGANYAR—Sejumlah wali murid utamanya dari kalangan tidak mampu atau keluarga miskin (gakin) di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karanganyar mengaku resah dengan kebijakan penarikan infak Rp 1 juta untuk siswa yang baru saja lulus pada tahun akademik 2016/2017 Juli lalu.

Tidak hanya itu, mereka juga resah lantaran ijazah para siswa yang belum lunas infak itu hingga kini belum diberikan.

Keresahan itu terungkap ketika beberapa wali murid mengadu ke salah satu anggota DPRD Karanganyar, Bagus Selo, Senin (7/8/2017).

Legislator PDIP itu mengungkapkan, intinya wali murid tidak mampu keberatan dengan kebijakan iuran berbahasa infak sebesar Rp 1 juta yang diwajibkan kepada semua siswa yang baru saja lulus.

Selain nilainya ditentukan dan diwajibkan, menurutnya, kemunculan iuran berbahasa infak yang diklaim digunakan untuk membangun masjid sekolah itu juga dinilai tidak pas.

Terlebih siswa tidak mampu yang notabene memiliki fasilitas Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan harusnya dibebaskan dari segala biaya, juga turut dibebani.

Keresahan juga muncul lantaran yang belum bisa membayar infak, hingga kini ijazahnya belum diberikan. Ia menyayangkan karena hal itu dapat mengganggu proses kelangsungan pendidikan bagi yang ingin kuliah dan menghambat proses mencari kerja bagi yang tidak melanjutkan.

“Ada siswa yang orangtuanya tidak mampu dan punya KIP juga disuruh bayar infak Rp 1 juta. Karena belum bisa bayar, sampai sekarang ijazah anaknya belum diberikan. Ini kan sudah nggak benar, mestinya pendidikan tidak boleh dikaitkan dengan urusan pembangunan masjid. Apalagi untuk siswa miskin,” ujarnya.

Salah satu wali murid asal Nangsri, Kebakkramat, Dedi membenarkan sampai saat ini belum bisa membayar kekurangan Rp 500.000 untuk infak pembangunan masjid itu.

Ia juga tak menampik ijazah putrinya, VT, hingga kini belum diterima karena dari sekolah menyampaikan ijazah belum jadi.

“Bagi saya yang hanya kerja buruh, infak Rp 1 juta itu terus terang agak berat. Kemarin dari sekolah bilangnya anak saya dapat beasiswa Rp 500.000. Nah, langsung diambil dan kurang Rp 500.000. Katanya infak itu kewajiban, yang narik bukan sekolahan tapi masjid sekolah,” terangnya.

Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Endang Muryani mengaku akan segera menindaklanjuti aduan tersebut. Secara prinsip ia juga menyayangkan munculnya tarikan berbahasa infak yang dibebankan untuk wali murid tidak mampu itu.

Wardoyo

BAGIKAN