JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Dugaan Korupsi Pesawat “Lawu Air” Karanganyar Meledak. Potensi Kerugian Negaranya Mencengangkan

Dugaan Korupsi Pesawat “Lawu Air” Karanganyar Meledak. Potensi Kerugian Negaranya Mencengangkan

1310
BAGIKAN
Pesawat Lawu Air menjadi salah satu koleksi Edupark Karanganyar | Dok/Joglosemar

KARANGANYAR– Kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat terbang bekas “Lawu Air” yang dipajang di obyek wisata Edu park Dusun Beji, Kecamatan Tasikmadu, memasuki babak baru. Setelah sempat bolak-balik dari penyidik Polres Karanganyar ke Kejaksaan setempat, akhirnya berkas perkara kasus yang menyeret mantan Kabid Cipta Karya DPU Karanganyar berinisial PR itu, resmi dinyatakan lengkap alias P-21.

Dugaan korupsi yang terjadi pada tahun 2014 itu juga menguak praktik pembelian yang disertai mark up dan menyebabkan kerugian negara hampir Rp 500 juta. Dari anggaran Rp 2 miliar yang dialokasikan untuk pengadaan dua unit helicopter bekas dan satu unit pesawat Boeing 727 Air Bus 200 bekas, ada selisih harga tak wajar mencapai Rp 0,5 miliar atau hampir seperempat dari pagu anggaran.

Babak baru kasus dugaan korupsi yang sempat menggantung hampir setahun itu disampaikan Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak, Rabu (30/8/2017). Kepada wartawan, AKBP Ade Safri membenarkan jika kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat yang melibatkan pejabat tersebut, telah dinyatakan lengkap alias P-21.

Selanjutnya, akan dilakukan pelimpahan tahap kedua ke Kejari Karanganyar. Menurut rencana, pelimpahan tahap kedua yakni berkas perkara dan tersangka akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

“Berkasnya sudah P-21 (lengkap). Dan sekarang kewenangan ada di Kejaksaan. Dalam waktu dekat segera kita limpahkan tahap kedua,” paparnya.

Menurut Kapolres, dalam kasus dugaan korupsi ini, ada sejumlah nama yang terlibat. Berkas pemeriksaan, akan dipisah menjadi dua berkas. Namun perihal nama-nama yang terlibat itu belum disampaikan secara detail.

“Kita mengajukan satu berkas dulu, berkas lain, masih dalam proses,” lanjutnya.

Terpisah, Kajari Karanganyar, IDG Wirajana, melalui Kasie Pidsus Hanung Widyatmaka, mengatakan berkas kasus tersebut masih menjadi kewenangan penyidik Polres. Pihaknya tinggal menunggu pelimpahan dari penyidik Polres.

“Kami masih menunggu pelimpahan dari penyidik Polres. Tapi kasusnya memang terjadi pada tahun 2014,” paparnya dihubungi Joglosemar, Rabu (30/8/2017). Wardoyo