JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Duh, 17 Anak di Sragen Jadi Korban Kekerasan Seksual

Duh, 17 Anak di Sragen Jadi Korban Kekerasan Seksual

857
BAGIKAN
DEKLARASI ANTI KEKERASAN- Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati didampingi Wabup dan ketua DPRD saat menandatangani pakta integritas anti kekerasan perempuan dan anak, dalam peringatan Harganas 2017 di Puro, Karangmalang, kamis (3/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Sebanyak 17 ânk di kabupaten Sragen dilaporkan mẹnjadi korban kekerasan seksual selama kurun enam bulan Januari-Juni 2017. Sementara berkaitan dengan optimalisasi program keluarga berencana (KB), Pemkab resmi meluncurkan program aplikasi pendataan terpadu akseptor KB melalui Sistem Aplikasi Akseptor (Si Asep).

Hl itu terungkap dalam Peringatan Hari Keluarga Nasional dan Anak Nasional yang dipusatkan di Dukuh Karas, Desa Puro, Karangmalang, Kamis (3/8/2017). Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB P3A), Sragen, Joko Sugeng mengungkapkan sepanjang Januari-Juni 2017, terdapat 17 kasus kekerasan pada anak yang mayoritas kekerasan seksual.

Menurutnya kurangnya perhatian dan pengawasan orangtua, biasanya menjadi faktor terbesar yang melatarbelakangi terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak yang dilakukan oleh orang dewasa.

“Banyak kasus biasanya orangtuanya merantau, anak hanya diasuh neneknya akhirnya tergiur pergaulan dengan orang dewasa dan terjerumus sehingga dimanfaatkan oleh orang dewasa melakukan kekerasan seksual. Makanya sekarang dari Kementerian Pemberdayaan perempuan dan anak menekankan bahwa salah satu hak anak adalah tidak boleh mendapat kekerasan baik psikis, fisik maupun sosial,” paparnya.

Sebagai bentuk keseriusan, momentum peringatan Harganas itu juga ditandai dengan penandatanganan pakta integritas oleh bupati dengan seluruh stake holder untuk mendeklarasikan antikekerasan perempuan dan anak. Bersamaan dengan itu, kemarin juga dilaunching inovasi baru pelayanan Akseptor KB melalui penggunaan aplikasi teknologi yang diberi nama Si Asep.

Joko menguraikan Si Asep itu digagas untuk mengatasi masalah banyaknya kartu akseptor yang hilang dan makin berkurangnya petugas KB di lapangan. Jumlah akseptor KB di Sragen hingga bulan Juni tercatat sebanyak 138.062 orang dari 173.462 pasangan usia subur (PUS). Sementara target perkiraan permintaan peserta KB baru diprediksi 39.665 orang.

Kabid PPKB P3A, Iin Dwi Yuliarti menambahkan lewat Si Asep yang saling
terkoneksi itu nantinya akan memudahkan petugas KB untuk mendata keaktifan peserta, metode kontrasepsinya, termasuk melayani konsultasi apabila ada kendala atau masalah dari akseptor. (Wardoyo)