JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Elpiji 3 Kg Di Karanganyar Makin Mencurigakan. Harga Tembus Rp 25.000, Isinya...

Elpiji 3 Kg Di Karanganyar Makin Mencurigakan. Harga Tembus Rp 25.000, Isinya Juga Dipertanyakan

76
BAGIKAN
Warga mengantre untuk membeli gas elpiji 3 kilogram, Selasa (12/05/2015) di Balai Desa Ngringo Jaten Karanganyar. Kegiatan ini merupakan operasi pasar LPG 3 Kg dengan harga jual Rp 15.500,- untuk warga miskin. Foto: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan

KARANGANYAR— Krisis keberadaan elpiji ukuran 3 kilogram di wilayah Karanganyar ternyata mulai meluas. Tidak hanya di kecamatan perbatasan, sulitnya mendapat elpiji juga terjadi di wilayah perkotaan.

Mimimnya stok membuat hukum pasar pun berlaku dengan harga yang kian meroket. Harga jual di tingkat pengecer mulai melonjak antara Rp 18.000, Rp 20.000 hingga Rp 25.000.

Salah satu pengecer di Ngringo, Jaten, Edi, mengungkapkan kelangkaan memang terjadi karena pasokan dari agen berkurang dari jumlah biasa.

Jika biasanya ia mendapat pasokan setiap satu dua hari sekali, sejak tiga pekan terakhir, ia hanya dikirimi setengah dari jatah yang biasa diterimanya.

Ia mencontohkan jika biasanya ada tiga tabung kosong, dirinya bisa diberi 5-7 tabung isi. Namun kondisi beberapa pekan. terakhir sebaliknya.

“Kalau saat ini, 10 tabung kosong hanya dikasih 4 tabung. Itu untuk satu pekan,” urainya.

Atas kondisi itu, mau tak mau ia harus mengikuti pangkalan lain untuk menaikkan harga karena persediaan berkurang. Edi mengaku terpaksa menaikkan harga elpiji melon dari Rp 18.000 per tabung menjadi Rp 19.000 per tabung.

“Bahkan ada juga yang menaikkan sampai Rp 25.000 per tabung. Tapi saya enggak berani. Kasihan ibu-ibu itu mencari gas jauh-jauh. Saya naikkan Rp 1.000 jadi Rp19.000 saja,” ujar dia.

Kelangkaan dan kenaikan harga sangat dirasakan oleh warga. Warga RT 4/RW 12, Ngringo, Jaten, Martini mengungkapkan harga elpiji melon di warung maupun toko kelontong dekat rumah mencapai Rp 20.000 per tabung.

“Di warung itu Rp 18.000-Rp 20.000. Ya dibeli daripada enggak bisa masak. Itu harus mencari keliling kampung lain,” terangnya.

Sementara, Dwi Suryani, warga RT 006/RW 012 menyampaikan selain harga naik, isi elpiji melon yang ada di kios belakangan juga mencurigakan. Ia menduga isi dari gas melon di saat kondisi sulit ini juga tidak penuh.

“Kan bksa kelihatan dari jarum. Kalau penuh itu biasanya warga kuning. Ini hanya sampai hijau. Nyari susah, begitu dapat, enggak penuh. Kalau seperti ini terus mungkin beli sayur saja untuk makan,” sebutnya.

Sementara itu, Camat Jaten, Aji Pratama Heru Kristianto, menyampaikan pihak kecamatan mendata sebanyak delapan desa mengalami kesulitan pasokan elpiji bersubsidi. Hasil pendataan itu sudah dilaporkan kepada Bupati Karanganyar. Kondisi paling parah dialami Desa Ngringo karena padat penduduk.

“Sementara delapan desa. Paling banyak kekurangan di Ngringo karena penduduk paling banyak dan ada industri kecil. Kami sudah melaporkan ke Bupati. Kalau soal harga memang sudah mencapai Rp 20.000-Rp21.000 per tabung. Harga di atas harga eceran tertinggi yang sudah ditentukan,” ungkap Heru, sapaan akrab Aji Pratama Heru Kristianto. (Wardoyo)