JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Heroik, Upacara di Sungai Hingga di Atas tumpukan Sampah!

Heroik, Upacara di Sungai Hingga di Atas tumpukan Sampah!

18
BAGIKAN
Foto-foto: Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
UPACARA BENDERA DI PUTRI CEMPO—Komunitas peduli lingkungan Solo mengikuti upacara bendera peringatan HUT ke-72 RI di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, Kamis (17/8). Kegiatan upacara bendera di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah tersebut sebagai pesan edukasi kepada masyarakat untuk mencintai lingkungan serta meminimalisir tumpukan sampah di TPA yang setiap tahun terus meningkat. (foto kiri) Warga mengikuti upacara bendera di Sungai Kalianyar, Banjarsari, Solo, Kamis (17/8). Kegiatan upacara di sungai tersebut digelar untuk peringatan HUT Ke-72 RI sekaligus sebagai kampanye pelestarian sungai.

SOLO – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Solo digelar tak biasa.

Di Mojosongo sejumlah warga menggelar upacara bendera di atas tumpukan sampah Tempat Pembungaan Akhir Sampah (TPA) Putri Cempo. Sementara di Nusukan upacara bendera digelar di Kalianyar dan Griya PMI Surakarta melibatkan orang dengan gangguan jiwa sebagai petugas upacara.

Rabu (17/8/2017) pagi Gerakan Orang Muda Peduli sampah (Gropesh) bersama Tim kerja lingkungan Hidup St Antonius Purbayan, dan Komunitas Bank Sampah Solo mengadakan upacara bendera di area (TPA) Putri Cempo, Mojosongo.

Debu, bau menyengat sampah tak menyurutkan semangat para pejuang lingkungan yang hadir pada acara ini. Sumartono Hadinoto selaku pemimpin upacara mengingatkan tentang kontribusi pahlawan yang telah berjuang di masa lampau. “Eyang-eyang kita sangat luar biasa. Mereka memperjuangkan kemerdekaan yang sekarang kita nikmati. Sekarang kita bisa menikmati tanpa tedensi, tanpa ambisi, tidak ada tujuan apa-apa hanya satu yaitu Merdeka!”ungkapnya.

Di tempat yang tak lazim dilakukan untuk upacara pengibaran bendera merah putih ini menjadi keunikan tersendiri dari acara ini. Denok Marty Astuti, penggagas kegiatan yang juga Ketua Gropesh Solo mengatakan pemilihan lokasi upacara dilakukan sebagai refleksi kemerdekaan para penggiat lingkungan hidup. “Kita liat tempat pembuangan sampah yang luasnya 17 hektare ini dipenuhi sampah bukan orang lain yang menjajah kita tetapi kita yang menjajah ibu pertiwi di sini,” ujarnya.