JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Hukum & Kriminal Kasus Korupsi GOR Manahan, Kejari Solo Tetapkan Dua Tersangka Baru

Kasus Korupsi GOR Manahan, Kejari Solo Tetapkan Dua Tersangka Baru

97
BAGIKAN
Joglosemar/Dok
Vita Solo saat berlatih di GOR Manahan Solo, beberapa waktu lalu.

SOLO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta akhirnya menahan dua orang tersangka batu kasus korupsi rehab dan pengadaan sarana dan prasarana (sarpras) Gedung Olahraga (GOR) Manahan.

Dua orang tersebut merupakan konsultan pengawas pekerjaan rehab dan pengadaan sarpras GOR Manahan.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Surakarta, Suyanto mengatakan penetapan kedua orang tersebut sebagai tersangka berbarengan saat penangkapan keduanya, Selasa (22/8/2017).

“Penahanan kedua tersangka baru tersebut berdasarkan hasil pengembangan kasus yang dilakukan tim penyidik Kejari. Kedua tersangka baru yang ditahan berinisial AS sebagai Direktur PT Surga Praga beralamat di Yogyakarta.

Satu tersangka lainnya, GW berperan sebagai peminjam bendera PT Surga Praga untuk mengikuti lelang, jasa konsultan pengawas pekerjaan rahab dan pengadaan sarpras GOR Manahan tahun 2014,” ungkapnya mewakili Kepala Kejari Surakarta, Sumarjo, Rabu (23/8).

Suyanto mengatakan saat ini kedua tersangka telah dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IA Surakarta.

“Berdasarkan penyelidikan, kedua tersangka diketahui tidak melaksanakan pekerjaan pengawasan sesuai dengan perjanjian kontrak. Dan kami masih memintai keterangan kedua tersangka di Kejaksaan untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke PN Tipikor Semarang,” ujarnya.

Sementara itu, Suyanto menambahkan, Kejari Surakarta telah menerima hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Jateng, terkait penyimpangan yang dilakukan pengawas pekerjaan rehab dan pengadaan sarpras GOR Manahan senilai Rp 49,5 juta tersebut.

Total seluruh anggaran rahab dan pengadaan sarpras GOR Manahan senilai Rp 2,1 miliar. Untuk kasus ini, Kejari telah menetapkan empat orang tersangka.

Dua tersangka lain masih menjalani proses persidangan yakni I Nyoman Asthawa berperan sebagai Direktur CV.Bernief yang beralamat di Ambon, Maluku, serta Muhamad Arief Triasmono sebagai pemilik CV Bernief. “Seperti diketahui, negara telah dirugikan Rp 422 juta atas kasus ini,” terangnya.

Triawati Prihatsari Purwanto