JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Kemenag Karanganyar Haramkan Tarikan Infak Dikaitkan Sekolah

Kemenag Karanganyar Haramkan Tarikan Infak Dikaitkan Sekolah

28
BAGIKAN
Ilustrasi. Foto : Calvary.edu

KARANGANYAR—Kementerian Agama (Kemenag) Karanganyar meminta kepala sekolah madrasah dan sekolah di bawah naungannya untuk tidak melakukan pungutan atau tarikan dalam bentuk apapun kepada siswa.

Tidak hanya itu, sekolah juga dilarang menarik infak yang besarannya ditentukan dan dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran siswa.

Penegasan itu disampaikan oleh Kepala Kemenag Karanganyar, Mustain, menyikapi adanya komplain wali murid salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Karanganyar ke anggota DPRD terkait infak Rp 1 juta dengan dalih untuk pembangunan masjid sekolah. Mustain menyampaikan, pihaknya sudah mengklarifikasi ke MAN yang bersangkutan.

Menurutnya, pihak sekolah membantah menarik infak Rp 1 juta untuk kepentingan pembangunan masjid. Pihak sekolah juga membantah menahan ijazah siswa yang belum lunas membayar.

“Kalau pembangunan masjid memang ada. Tapi kalau menarik infak Rp 1 juta ke siswa, apalagi yang enggak bayar ijazah enggak diberikan, itu pihak sekolah menyampaikan tidak ada. Ijazahnya baru dalam proses semua,” ujarnya.

Mustain mengingatkan sekolah memang tidak diperkenankan menarik pungutan infak atau sedekah yang besarannya ditentukan.

Apalagi, jika itu kemudian dikait-kaitkan dengan urusan kegiatan belajar mengajar (KBM) atau pendidikan siswa. Hal itu juga sudah disampaikan ke kepala madrasah saat dikumpulkannya untuk diberikan sosialisasi beberapa waktu lalu.

“Kami sudah mengingatkan tidak ada bayar membayar. Yang namanya infak memang seikhlasnya. Kalau misalnya membangun masjid, ya harus dipisahkan dari kegiatan pendidikan,” tukasnya.

Sementara, anggota DPRD Karanganyar, Bagus Selo mengungkapkan, keluhan adanya infak Rp 1 juta itu diterimanya dari wali murid salah satu MAN di Karanganyar Kota.

Pasalnya, iuran berbahasa infak untuk kepentingan pembangunan masjid sebesar Rp 1 juta itu diwajibkan kepada semua siswa yang baru saja lulus.

Keresahan juga muncul lantaran yang belum bisa membayar infak, hingga kini ijazahnya belum diberikan. “Mestinya pendidikan tidak boleh dikaitkan dengan urusan pembangunan masjid. Apalagi untuk siswa miskin,” terangnya.

Wardoyo