JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Kisah-kisah Miris Perjuangan Warga Sragen di Wilayah Krisis Air

Kisah-kisah Miris Perjuangan Warga Sragen di Wilayah Krisis Air

1139
BAGIKAN
CARI AIR- Warga Dukuh Kowang, Ngargotirto, Sumberlawang saat menggendong klenting untuk mengambil air dari sungai berjarak 5 kilometer karena sumur-sumur sudah tidak ada lagi airnya sejak kekeringan melanda sebulan terakhir. Foto diambil Sabtu (26/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Musim kemarau panjang hampir selalu menghadirkan nestapa bagi warga Dukuh Kowang, Desa Ngargotirto, Sumberlawang. Di tengah nihilnya hujan dan mengeringnya sumber-sumber air, ratusan warga di dukuh itu kini ternyata harus melalui perjuangan keras hanya demi mendapat air untuk konsumsi sehari-hari.

Hari sudah beranjak siang, terik sinar mentari pun terasa menyengat di atas kepala. Perempuan tua bernama Tuminem (65) itu tampak berjalan gontai dengan menggendong klenting (tempayan kecil) di punggungnya.

Sesekali, tangan kanan perempuan asal Dukuh Kowang, RT 6, Ngargotirto, itu terlihat mengusap peluh dengan kain selendang untuk gendongan. “Nggih ngeten niki mas. Saben dinten ngangsu saking lepen. Beteke kajengen saget masak wedang. Ajeng tumbas mboten gadah arto,” ujarnya Sabtu (26/8/2017).

Ia menuturkan satu klenting air itu memang didapat dengan perjuangan tak mudah. Jalan kaki sekitar lima kilometer dari rumahnya menuju ke sendang di Sungai Ngasinan hampir setiap hari dilakoninya hanya demi memperoleh air untuk konsumsi sehari-hari.

Perjuangan itu harus dilalui lantaran kondisi ekonominya yang jauh dari kata mampu, membuatnya tak bisa membeli air keliling seperti warga lainnya. Lain Tuminem, lain pula Ratmanto (60).

Petani dari dukuh yang sama itu menuturkan hampir semua warga di dukuhnya, memang mengalami krisis air bersih sejak mandegnya hujan sekitar tiga bulan silam. Sumur-sumur warga tak lagi bisa diandalkan karena mengering.

Warga hanya bisa bertumpu pada sumber air yang tersisa di sendang, di sungai maupun di belik (cekungan) di hutan, yang berjarak beberapa kilometer dari desa. “Kalau air dari kali (sungai) itu bening Mas, tapi ya itu ambilnya jauh sekitar 5 kilometer dari sini. Ya jalan kaki,” ungkapnya.

Ia menguraikan karena mahalnya air, terkadang warga yang punya ternak sapi atau kambing, rela sampai tidak mandi asalkan sapinya bisa minum. Sedangkan bantuan droping dari Pemkab sejauh ini baru diterima sekali dua pekan silam. Sisanya ada dua kali bantuan dari komunitas sepekan lalu.

“Kalau sekali turun (didrop) itu kadang dibagi-bagi dan hanya dapat dua ember. Nggak sampai sehari saja sudah habis Mas. Besoknya kalau nggak ada bantuan ya nyari lagi di hutan dan sungai,” tukasnya.

Ketua RT 6 Dukuh Kowang, Wagiyo (67) menuturkan ada sekitar 39 kepala keluarga (KK) di dukuhnya yang saat ini memang dilanda krisis air. Krisis terparah dirasakan sebulan terakhir ketika sumber-sumber air di permukiman sudah kering total.

Ia juga membenarkan sebagian besar warga terpaksa mengambil air dari sungai di Ngasinan atau berburu sumber-sumber di tengah hutan hanya demi bisa mendapat air bersih. Air di hutan pun tidak diperoleh dengan mudah tapi harus menggali atau membuat lubang terlebih dahulu baru keluar.

“Harus diduduk (digali) dan dibuat cumplengan dulu. Setelah itu, air akan ngumpul dan baru bisa diambil. Memang jauh tapi ya gimana lagi wong adanya cuma di situ. Mau buat sumur juga nggak ada sumbernya,” tukasnya.

Kades Ngargotirto, Daryono menyampaikan kondisi kekeringan di desanya sudah berlangsung sebulan terakhir. Total ada lebih dari 100 KK yang sudah sangat mengandalkan bantuan karena sumur-sumur sudah mengering. Wardoyo