JOGLOSEMAR.CO Foto Marak Bentor dan Sepur Kelinci, Polda : Bukan Soal Perut Saja, Tapi...

Marak Bentor dan Sepur Kelinci, Polda : Bukan Soal Perut Saja, Tapi Keselamatan!

150
BAGIKAN
BENTOR DIAMANKAN- Kasat Lantas Polres Sragen, AKP Dwi Erna Rustanti
saat memimpin penertiban tujuh bentor di pasar Gondang yang diamankan
ke Polres Sragen Kamis (3/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN—Ditlantas Polda Jateng menyerukan semua Polres untuk segera menertibkan keberadaan becak bermotor (bentor), becak diesel, maupun sepur kelinci yang ada di wilayah masing-masing.

Instruksi pembersihan bentor dan sejenisnya itu dilontarkan untuk penegakan aturan, mengingat keberadaan alat transportasi modifikasi itu dinilai tidak memenuhi ketentuan.

Penegasan itu disampaikan oleh Knasubdit Dikyasa Ditlantas Polda Jateng, AKBP Indra Kurniawan saat memimpin Sosialisasi Road Show Keselamatan Berlalu Lintas Lewat Bus Zebra Cendekia di Polres Sragen, Rabu (23/8/2017).

Perihal polemik penertiban bentor, bendis (becak diesel) yang belakangan masih memicu konflik di Sragen, Indra menegaskan, secara aturan, bentor, bendis, atau sepur kelinci memang tidak diperbolehkan dan harus ditertibkan.

Pasalnya, sejauh ini tidak ada aturan yang melegalkan soal kehadiran maupun operasional bentor. Menurutnya, bentor adalah motor yang dipotong dan diubah bentuknya. Padahal segala yang diubah bentuk itu haruslah melalui uji tipe terlebih dahulu.

“Memang aturannya tidak boleh. Aturannya dari mana, ya karena bentor itu tidak ada uji tipe. Apalagi dia (bentor) itu mohon maaf yang dipakai kadang mesin-mesin parut kelapa. Itulah makanya kenapa harus ditertibkan semua,” ungkapnya.

Menurutnya, kehadiran alat transportasi modifikasi semacam bentor terdeteksi ada di Semarang, Sragen, dan beberapa wilayah lainnya.

Pihaknya meminta Polres yang wilayahnya ada bentor, sepur kelinci, atau kendaraan modifikasi sejenisnya, segera menindak dan menertibkan.

Sebab jika tidak ditertibkan, dikhawatirkan akan semakin merajalela dan terus bertambah yang akhirnya justru rentan memicu persoalan lebih luas.

Tidak hanya Polres, Polda Jateng pun melalui Ditlantas juga tidak henti menertibkan bentor yang selama ini banyak beroperasi di Pasar Johar Semarang.

“Sepur kelinci juga. Karena mohon maaf kadang bentor itu juga pakai motor-motor yang nggak jelas. Kita fair saja. Berpikir aturan sajalah, sudah. Aturannya tidak boleh, ya tidak boleh. Harus ditertibkan,” tandasnya.

Ia tidak menutup mata bahwa penertiban bentor dan sejenisnya memang terkadang harus berhadapan dengan urusan pencaharian atau ekonomi pengemudinya.

Namun, ia juga meminta semua pihak terutama pengemudinya, mulai berpikir soal keselamatan mengingat kendaraan transportasi rakitan itu memang tidak melalui uji tipe.

Pihaknya tidak ingin, moda transportasi tanpa uji itu kemudian harus menimbulkan kecelakaan terlebih dahulu baru dilakukan penindakan.

Akan tetapi, sudah semestinya antisipasi dan penegakan aturan dikedepankan, sehingga meminimalkan hal-hal negatif utamanya soal keselamatan.

“Jangan berfikir itu masalah perut saja. Semuanya kita bekerja untuk cari makan. Tapi kita juga harus berfikirnya keselamatan. Jangan udah kejadian baru kita bertindak, tidak boleh begitu. Kita antisipasi dulu biar itu tidak terjadi,” tukasnya.

Soal polemik penolakan penertiban dari kelompok pengemudi bentor seperti yang terjadi di Sragen, Indra berharap mereka juga menyadari soal aturan.

Jika tidak terima, pihaknya membuka lebar audiensi bagi yang ingin menanyakan kenapa bentor dan sejenisnya harus ditertibkan.

Kepala Dishub Sragen, Muhari melalui Kabid Angkutan, Bintoro Setyadi mengungkapkan, saat ini jumlah bentor maupun bendis di Sragen mencapai 147 unit.

Menurutnya, baik bentor maupun bendis memang dilarang beroperasi karena melanggar undang-undang. Namun terkait penindakan atau penertiban, hal itu menjadi kewenangan kepolisian.

“Apalagi kalau kecelakaan tidak ada jaminan Jasa Raharja-nya,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Terpisah, Kasat Lantas Polres Sragen AKP Dwi Erna Rustanti melalui KBO Lantas, Iptu Mashadi menyampaikan, untuk sementara baru tujuh bentor di Gondang yang sudah disita.

Sedangkan untuk bendis yang ada di wilayah kota, sementara memang ada kesepakatan lisan untuk tidak mangkal di Jalan Sukowati dan jalur trayek angkutan resmi.

Wardoyo