JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Membangun Karakter Jujur Melalui Matematika

Membangun Karakter Jujur Melalui Matematika

80
BAGIKAN
Anik Prihati
Guru SMPN 3 Salatiga

Pendidikan karakter saat ini sedang diluncurkan oleh pemerintah dimana karakter ini sangat penting bagi setiap siswa. Melalui Permendikbud No. 23 Tahun 2015, Kemendikbud mendorong semua pelaku pendidikan agar memiliki budi pekerti. Caranya dengan menciptakan iklim sekolah dan lingkungan yang lebih baik sehingga semua warganya turut berbudi pekerti.

Karakter jujur diajarkan lewat intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Penumbuhan karakter jujur pada siswa sering dipengaruhi dari berbagai hal, seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, maupun sekolah. Salah satu pilar pembentukan karakter jujur melalui pendidikan  formal di sekolah.

Sekolah adalah rumah kedua bagi setiap siswa sehingga sangat tepat sebagai modal pendidikan karakter jujur. Karakter jujur yang telah diperoleh di lingkungan rumah dapat dikembangkan di pendidikan formal. Sayangnya, kadang orang tua bersikap terbalik denggan menyerahkan  pendidikan karakter jujur itu ke sekolah sepenuhnya dengan alasan sibuk.

Jujur dapat diartikan sebagai sikap mengakui, berkata, atau pun memberi suatu informasi yang sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi atau sesuai kenyataan. Dari segi bahasa, jujur dapat disebut juga sebagai antonim atau pun lawan makna kata bohong, yaitu berkata atau pun memberi informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran. Karakter jujur perlu dikembangkan karena sangat penting untuk menciptakan siswa yang berkualitas.

 Rumah kedua bagi siswa adalah sekolah. Di sini, siswa akan mendapatkan pelajaran sesuai jenjangnya. Dari sekian banyak pelajaran, matematika adalah pelajaran yang akan diberikan dengan alokasi waktu yang lumayan banyak.

Pelajaran matematika tidak hanya mengantarkan anak untuk berfikir logika dengan simbol atau angka, tetapi di dalamnya bisa juga digunakan untuk menanamkan karakter jujur. Karakter jujur pelajaran matematika dapat ditemukan pada setiap materi baik sederetan pekerjaan anak, yakni urutan dalam mengerjakan satu soal. Selain itu, materi statistika dalam penarikan kesimpulan juga dapat digunakan.

Contoh pembentukan karakter jujur pada siswa materi pelajaran statistika adalah penarikan kesimpulan metode diskriptif. Sebagai contoh, seorang siswa ingin mengetahui rasa buah rambutan yang berasal dari satu pohon. Guru dapat membawa 2 kantong plastik berisi masing-masing 10 rambutan dari 2 pohon yg berbeda. Kelompok 1 terdiri atas 10 siswa mengambil sampel rambutan sebanyak 10 kali dari batang yang berbeda dengan kematangan yang sama. Ternyata data yang didapat kelompok 1 adalah 8 rambutan berasa manis dan 2 rambutan berasa asem. Dari sini dapat disimpulkan bahwa rambutan pada pohon tersebut adalah manis karena perbandingannya 8:2 atau diperkecil 4:1.

Pada kelompok 2 juga terdiri atas 10 orang yang meneliti rasa rambutan. Ternyata ia mendapatkan 3 manis dan 7 asam. Dari sini dapat disimpulkan bahwa buah rambutannya berasa masam. Pembentukan karakter jujur pada pembelajaran di atas adalah karakter jujur pertama.

Karakter jujur kedua, siswa diminta untuk memberi keterangan yang benar. Jika manis harus dikatakan manis dan masam harus dikatakan masam.  Karakter jujur ketiga, siswa mencatat data sesuai objeknya. Hasil catatan kelompok satu adalah 8 manis dan 2 asam. Karakter jujur keempat, siswa diminta mengolah data sesuai ketentuan. Penarikan kesimpulan berdasar hasil pengolahan data yang akurat.

Jika empat langkah pembentukan karakter jujur di atas diterapkan, tentunya karakter jujur akan melekat. Hasil ini dapat dilihat dari jawaban siswa yang benar. Selain itu, dalam mencatat data, siswa tidak boleh bersumber 1 orang saja. Makin banyak data digunakan makin valid kesimpulan diambil. Bahkan, siswa akan terlatih menerapkan sikap jujur ini di kehidupan sehari-hari. Matematika bukanlah sekadar deretan angka, melainkan juga setumpuk karakter mulia yang bisa ditumbuhkan kepada para siswa.