JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Peternak Sapi di Tanon Korban Penipuan Depresi, Pakar: Kembalikan Sapi ke Peternak!

Peternak Sapi di Tanon Korban Penipuan Depresi, Pakar: Kembalikan Sapi ke Peternak!

214
BAGIKAN
Ilustrasi. Foto : Wardoyo

SRAGEN – Kasus penipuan terhadap belasan peternak sapi di Kecamatan Tanon oleh sindikat penipu asal Semarang, ternyata masih menyisakan kepedihan bagi sebagian korban. Beberapa peternak bahkan masih mengalami depresi hingga kini lantaran kerugian yang mereka alami.

Kasus itu pun memantik keprihatinan sejumlah kalangan.  Salah satu pakar hukum yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Adi Sulistyono memandang sapi yang dibeli dari peternak itu harusnya bisa dikembalikan ke peternak meski harus melalui penyitaan terlebih dulu.

Pertama, sapi harus disita dulu oleh kepolisian sebagai barang bukti karena jelas itu  hasil tindak penipuan. Nah baru kemudian diproses kasus penipuannya. Tapi mestinya sapi nanti harus dikembalikan ke petani (peternak) karena itu milik mereka yang menjadi korban penipuan,” paparnya kepada Joglosemar, Minggu (20/8/2017).

Adi melihat  barang bukti sapi itu jelas bisa diambil oleh petani karena itu dibeli oleh pelaku penipuan tanpa dibayar. Jika pedagang asal Jenawi mengklaim dia sudah membeli dari pelaku, patut ditelusuri pula apakah pembeliannya dengan harga wajar dan memang tanpa sepengetahuan bahwa itu adalah barang hasil penipuan.

Apabila dibeli dengan harga wajar, maka akan menjadi kasus penipuan kedua dan pedagang pembeli bisa termasuk korban juga.

Tapi sebaliknya, apabila pedagang ternyata sudah pernah membeli atau mengetahui riwayat pelaku dan sapinya hasil penipuan, maka yang bersangkutan patut diduga dan bisa diproses sebagai penadah.

“Tinggal dilihat dari pedagang pembelinya itu. Tapi kalau pelaku membeli dari petani Rp 126 juta kemudian dijual ke pedagang Jenawi itu hanya Rp 99 juta, tentu disparitas harga terlalu jauh patut dicurigai,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen, Aris Wardono menyampaikan untuk ternak yang hendak dijual kepentingan potong ke luar daerah, memang umumnya harus melalui proses pemeriksaan oleh petugas kesehatan hewan daerah asal. Karena biasanya untuk

beberapa daerah tujuan seperti Jakarta dan luar kota, ada yang menghendaki ternak khususnya untuk kurban harus disertai surat keterangan sehat dari petugas.

“Itu (Surat Kesehatan) memang diperlukan untuk ternak yang akan disembelih. Apalagi untuk ternak betina karena menyangkut reproduksi juga,” jelasnya.

Di sisi lain, beberapa korban asal Dukuh Ngamban, Desa Gawan berharap kepolisian lebih tegas untuk memproses kasus ini. Sebab dari hasil penelusuran bersama Tim Polsek Tanon ke Polsek Mranggen, Semarang, pelaku ternyata juga beraksi di Mranggen dan Jepara dengan modus yang sama.

Akan tetapi, kepolisian di dua wilayah itu langsung bisa menarik sapi untuk dikembalikan ke petani lantaran sapi dijual tanpa kuitansi, surat keterangan petugas dan tidak ada saksi yang mengetahui transaksi pelaku dengan pedagang pembelinya.

“Kemarin saran dari kepolisian Mranggen memang sapi harus ditarik dan dikembalikan ke petani karena itu milik petani yang ditipu. Seperti kasus yang menimpa kami ini, harga sapi itu normalnya juga kisaran Rp 120-125 juta, lha dijual ke pedagang itu seharga Rp 99 juta apa ya wajar.

Wong sapinya gemuk-gemuk. Kami hanya minta hak kami sapi kembali. Kami ini peternak sudah rekasa, kena tipu kok malah sampai sekarang terkatung-katung,” tutur Sutarno, Ketua RT yang dua sapinya jadi korban.

Ia dan beberapa korban lain juga menuturkan meski sempat diajak ke Jenawi oleh pelaku, namun proses transaksi jual beli dari pelaku ke pedagang berinisial  J asal Jenawi  dilakukan tanpa sepengetahuan peternak.

“Jadi kami enggak tahu dijual berapa, penyerahan uangnya kapan, juga nggak ada yang tahu. Tahu-tahu kami langsung dibawa ke mobil lagi dan diajak ke Semarang dengan alasan mengambil kekurangan pembayaran,” tuturnya.

Sutarno menambahkan, akibat penanganan yang terkatung-katung, sebagian korban juga mengalami depresi karena memikirkan sapinya yang ditipu dan belum bisa kembali.

Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman menyampaikan saat ini kasus tersebut masih didalami. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Tim Reskrim untuk menindaklanjuti informasi perihal riwayat sindikat pelaku yang dikabarkan juga beraksi di Mranggen dan Jepara itu.

Wardoyo