JOGLOSEMAR.CO Berita Utama PWI Solo Kecam Kapolres Waykanan

PWI Solo Kecam Kapolres Waykanan

173
BAGIKAN
FOTO ILUSTRASI-Joglosemar|Maksum Nur Fauzan
AKSI SOLIDARITAS–Sejumlah wartawan dari berbagai media cetak, elektronik Solo menggelar aksi solidaritas atas pemukulan wartawan Medan, beberapa waktu lalu di bundaran Gladag Solo.

SOLO- Penghinaan profesi wartawan yang dilakukan Kapolres Waykanan Lampung, AKBP Budi Asrul Kurniawan mendapat kecaman dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta. Sebagai Kapolres, tidak pantas membuat statemen yang asal-asalan menghina profesi pekerjaan yang dijalani warga.

“Apa yang dilakukan Kapolres tersebut sangat menyakiti teman-teman wartawan seluruh Indonesia. Ucapan Kapolres itu tidak etis, arogan dan kurang ajar,” jelas Wakil Ketua PWI Surakarta Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, Sri Hartanto, Senin (28/8).

Ditambahkan Hartanto, apa yang dilakukan AKBP Budi Asrul Kurniawa harus ditanggapi serius sehingga tidak hanya berhenti setelah yang bersangkutan minta maaf. “Kami mendesak Kapolri mengambil tindakan kepadanya,”jelasnya.

Selain itu, tambahnya, perlu ada sanksi dari pimpinan Polri agar yang bersangkutan dicopot jabatannya sebagai sebagai Kapolres.

Ditambahkan Sri Hartanto, jika benar apa yang diucapkan Budi Asrul Kurniawan mendiskreditkan profesi wartawan sebagai kotoran hewan itu penghinaan yang sangat luar biasa. “Yang bersangkutan tidak mencerminkan sikap pimpinan untuk menghormati tugas wartawan,” tandasnya.

Disamping itu, sikap Budi Asrul Kurniawan juga menghina profesi ayah Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Achmad Saleh yang juga sebagai anggota PWI seumur hidup.

“Beliau (ayah Kapolri) wartawan senior di Palembang, Sumatera Selatan. Profesi di bidang jurnalistik menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk membiayai sekolah Tito hingga meraih jabatan tertinggi di kepolisian,’ ujar Hartanto.

Achmad Saleh menggeluti dunia kewartawanan sejak awal 1960-an di RRI. Selanjutnya, ia membidani pendirian koran Ekonomi Pembangunan, Pelita, dan koran Angkatan Bersenjata edisi Sriwijaya. Ia pernah mendirikan koran terbitan Palembang dan menjadj anggota PWI seumur hidup PWI.

Seperti diberitakan di berbagai media, Kapolres Waykanan AKBP Budi Asrul Kurniawan beraksi kelewat batas terhadap wartawan. Ketika jurnalis hendak mengabadikan sebuah cekcok yang nyaris berujung keributan, dia malah melarang sang pewarta untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

Perwira menengah itu malah menghina profesi wartawan dan mendiskreditkan media cetak di Lampung. Di hadapan dua wartawan, Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan.

Bukan itu saja, dia juga menyatakan koran di Lampung tidak ada yang membaca. Penghinaan tersebut dia lontarkan saat penertiban massa pro dan kontra batu bara yang hampir terlibat chaos di Kampung Negeribaru, Blambanganumpu, Waykanan, Minggu (27/8) sekitar pukul 02.30 WIB.(Triawati | A Syahirul)