JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen RAB Tidak Transparan, Proyek Pamsimas Gilirejo Dikeluhkan

RAB Tidak Transparan, Proyek Pamsimas Gilirejo Dikeluhkan

511
Joglosemar | Wardoyo
PROYEK PAMSIMAS- Sejumlah pekerja tengah mengerjakan proyek sumur Pamsimas di Desa Gilirejo Baru, Miri yang menuai keluhan warga.


SRAGEN
– Proyek pembangunan Penyedia Air Minum Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, menuai protes dari masyarakat dan tokoh setempat. Selain anggaran dan pelaksanaan dinilai kurang transparan, cakupan layanan sumur Pamsimas yang sedang dibangun itu juga dinilai jauh dari harapan.

Protes dilontarkan oleh warga, tokoh, perangkat desa hingga LSM Keluarga Besar Relawan Pengawal Perubahan Sragen (KBRPPS) yang mengklaim menjadi motor permohonan proyek itu. Ketua LSM KBRPPS, Warsito mengungkapkan ada beberapa ketidaksesuaian dari proyek yang saat ini tengah dibangun itu.

“Pertama proyek itu diborongkan tanpa ada kejelasan RAB-nya berapa.
Kedalaman sumur yang harusnya 80 meter, hanya dibuat 53 meter. Pemasangan pralon diborongkan per meter 2.500. Saya khawatir dengan model seperti itu, Pamsimas nanti hanya jadi pajangan seperti dua Pamsimas sebelumnya yang sampai sekarang juga mangkrak nggak berfungsi,” paparnya Minggu (6/8).

Ia juga menilai cakupan layanan Pamsimas itu juga di bawah estimasi pengajuan. Menurutnya awalnya proyek itu diajukan untuk satu kebayananan akan tetapi belakangan dari tiap RT hanya diambil 20 KK saja sebagai uji coba.

Petugas Teknis Desa (PTD) Gilirejo Baru, Priyadi membenarkan sepengetahuannya proyek itu tiba-tiba dikerjakan begitu saja diborongkan. Pihak  desa maupun masyarakat merasa tak pernah diberi tahu atau diajak musyawarah pembangunannya.

“RAB-nya kami juga nggak tahu. Padahal mestinya desa ditembusi. Kalaumbangunnya bagus nggak apa-apa, lha tapi bagaimana kami bisa mengontrol wong RAB saya nggak diberitahu. Setahu kami anggarannya katanya dari DAK,” jelasnya.

Padahal, menurutnya, kehadiran Pamsimas itu diharapkan bisa mengatasi
problem klasik kekeringan yang hampir setiap tahun melanda desanya. Ia menyampaikan hampir semua dukuh dan RT di Gilirejo Baru selalu tak pernah absen dari krisis air bersih tiap kemarau tiba.

Dari tujuh dukuh yang ada, setiap tahun selalu menjadi langganan droping air bersih. Dukuh yang terparah di antaranya 4 RT di Dukuh Sumberejo jumlah KK mencapai 153, lalu Dukuh Dondong dengan 115 KK di 3 RT dan Gondang Legi dengan jumlah KK 60.

“Dukuh-dukuh yang lain juga kondisinya sama tapi yang paling parah tiga itu,” jelasnya. Wardoyo

BAGIKAN