JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Reaksi DPRD Sragen Mendengar Banyak Ibu Melahirkan di Jalan Gilirejo Baru

    Reaksi DPRD Sragen Mendengar Banyak Ibu Melahirkan di Jalan Gilirejo Baru

    331
    BAGIKAN
    Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto didampingi anggota DPRD asal Plupuh, Sutimin, saat mengecek lokasi pengecoran perdana di jalur Gentan Banaran, Selasa (13/6/2017). Joglosemar/Wardoyo

    SRAGEN—Mencuatnya fenomena bidan desa enggan mblabag (menetap) hingga membuat banyak ibu hamil melahirkan di perjalanan yang terjadi di desa terpencil Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, memantik reaksi keras dari DPRD.

    Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto meminta dinas terkait segera mengganti bidan desa yang bertugas di wilayah itu dengan bidan yang mau konsisten siaga 24 jam dan berdomisili di desa tersebut.

    “Harus segera diambil langkah. Bidan desa yang sekiranya enggak mau komitmen mblabag dan domisili, ya harus diganti. Kasihan warga yang membutuhkan pelayanan, apalagi di daerah terpencil seperti Gilirejo Baru,” katanya, Kamis (17/8/2017).

    Ia juga meminta Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) lebih proaktif mengecek kinerja bidan-bidan desa di semua wilayah, apakah sudah tinggal di wilayah tugasnya apa belum.

    Apalagi bupati juga sudah menyerukan kepada semua bidan desa untuk berdomisili di wilayah tugasnya dan yang tidak mau bisa dipindahtugaskan.

    Khusus untuk Gilirejo Baru, Bambang memandang, memang harus ada pengecualian seperti pemberian insentif lebih. Hal itu untuk memotivasi bidan agar mau berdomisili dan memberikan pelayanan siaga 24 jam di wilayah tersebut.

    “Karena memang kondisinya di daerah yang sulit, jauh dari akses, sehingga menurut kami sudah sewajarnya dapat perhatian lebih. Kami juga berharap bidan juga harus punya semangat pengabdian yang lebih, jangan hanya maunya tugas di wilayah kota saja,” terangnya.

    Terpisah, Kabid Promkes DKK Sragen, Fanni Fandani mengaku, akan segera melakukan klarifikasi dan pengecekan perihal fenomena bidan ogah mblabag di Gilirejo Baru tersebut.

    Namun ia mengakui, jika dari dua bidan yang ditempatkan di desa itu, satu di antaranya yang bernama Kartini memang tidak bisa mblabag lantaran tangannya sakit pasca kecelakaan.

    “Kami akan klarifikasi dan kaji dulu. Kalau memang benar enggak mblabag, mungkin akan kita cari solusinya,” terangnya.

    Di sisi lain, Kades Gilirejo Baru, Hartono menyampaikan, fenomena banyak ibu hamil yang terpaksa melahirkan di perjalanan itu sudah terjadi sejak lama.

    Hal itu disebabkan tidak adanya bidan desa yang stand by 24 jam, sedangkan jarak Gilirejo Baru ke layanan kesehatan sangat jauh. Kondisi jalan yang rusak sangat parah membuat guncangan hingga tak jarang ibu hamil yang diantar akhirnya menjalani persalinan di perjalanan.

    Menurutnya, jika memang tidak sanggup mblabag, tokoh masyarakat dan Pemdes siap mencarikan tenaga bidan setempat yang siap bertugas dan domisili di desanya.

    Wardoyo