JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Sapi Milik Peternak Tanon Kini Diamankan di Rumah Sekdes Jenawi

Sapi Milik Peternak Tanon Kini Diamankan di Rumah Sekdes Jenawi

175
BAGIKAN
KORBAN SINDIKAT- Kondisi kandang sapi milik Sutarno, peternak asal
Ngamban, Gawan, Tanon, hanya menyisakan satu anak sapi setelah
beberapa ekor sapi besarnya menjadi korban sindikat dagang untuk
kurban yang menipu banyak peternak, Senin (14/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN—Derita empat peternak asal Dukuh Ngamban, Desa Gawan, Kecamatan Tanon yang menjadi korban sindikat penipuan berkedok pedagang untuk kurban asal Semarang, semakin bertambah.

Satu dari enam ekor sapi yang dibawa kabur tanpa dibayar dan dijual diam-diam ke pedagang sapi berinisial J asal Jenawi, Karanganyar, dilaporkan patah kakinya.

Hal itu terungkap dari keterangan Kapolsek Jenawi, AKP Iwan Kusnindar, Senin (21/8/2017). Mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak, ia menyampaikan, saat ini enam sapi milik empat peternak asal Tanon, Sragen itu memang masih diamankan sebagai barang bukti.

Sapi-sapi itu sementara dititipkan di rumah sekretaris desa (sekdes) di Jenawi, mengingat kasus ini sudah masuk proses hukum.

“Masih ada (sapinya) dan saat ini diamankan di tempat Pak Carik di Jenawi. Karena itu kemarin sudah disita sebagai barang bukti. Tapi kami hanya mengamankan saja, sedangkan proses hukum kasusnya ditangani Polres Sragen, karena locus delicti-nya di Sragen. Kami siap membantu sewaktu-waktu jika dibutuhkan untuk proses hukum,” ungkap Kapolsek, Senin (21/8/2017).

Terpisah, kasus penipuan yang menimpa empat peternak dan mengelabui belasan peternak lainnya di sejumlah desa di Tanon itu terus memantik perhatian pihak terkait. Tidak hanya pakar hukum pidana, jaksa di Kejari Sragen pun turut angkat bicara.

Kajari Sragen, Herrus Batubara melalui Kasie Pidana Umum, Dananjaya Widihartono memandang bahwa enam ekor sapi yang dibawa kabur oleh pelaku dan diketahui dijual ke Jenawi itu secara hukum tetap milik peternak dan harus dikembalikan lagi ke peternak.

Bahkan, pedagang pembeli di Jenawi bisa dijerat pasal penadah apabila tidak bisa menunjukkan bukti kuitansi pembelian, kemudian saksi yang mengetahui transaksi serta harganya di bawah standar.

Indikasi itu sangat terbuka, terlebih apabila melihat riwayat pelaku yang disebut sempat menikah dengan orang Jenawi dan dimungkinkan sebelumnya sudah berhubungan atau mengenal pelaku.

“Kalau kemudian pembeli (J) juga merasa jadi korban penipuan, nanti hubungan kasusnya dengan pelaku. Tapi sapi tetap milik peternak sepanjang benar-benar dijual, tapi tidak dibayar oleh pelaku. Pembeli malah bisa diproses kalau nggak bisa menunjukkan kuitansi pembelian, tidak ada saksi yang mengetahui transaksi. Apalagi kalau harga jual petani Rp 126 juta, ternyata oleh pelaku dijual ke pembeli itu hanya Rp 99 juta, apakah itu wajar atau tidak ini yang perlu dipastikan,” tandasnya.

Wardoyo