JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Sekolah Inklusi Gender

Sekolah Inklusi Gender

74
BAGIKAN

Johan Wahyudi
Guru SMPN 2 Kalijambe, Sragen

Istilah gender sering mengalami bias penafsiran dengan pengertian seks. Gender dapat diartikan sebagai keadaan individu yang lahir secara biologis sebagai laki-laki dan perempuan yang kemudian memperoleh pencirian sosial sebagai laki-laki dan perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan feminitas yang sering didukung oleh nilai-nilai, system, dan atau simbol di masyarakat yang bersangkutan. Artinya, gender adalah suatu konstruksi sosial atas seks menjadi peran dan perilaku sosial.

Definisi itu jelas berbeda dengan seks yang diartikan sebagai pembagian dua jenis kelamin manusia berdasarkan ciri biologis yang diperolehnya sejak lahir. Artinya, dunia ini hanya memiliki dua jenis manusia, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya ditandai oleh cirri-ciri fisik yang diberikan Tuhan, seperti laki-laki memiliki penis, scrotum, dan memproduksi sperma. Ciri perempuan ditandai oleh kepemilikan vagina, rahim, dan memproduksi sel telur. Alat-alat biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan sehingga sering dikatakan sebagai kodrat atau ketentuan dari Tuhan.

Berdasarkan pengertian gender di atas, laki-laki dapat memegang peran sebagai perempuan dan perempuan pun dapat memegang peran sebagai laki-laki. Sebagai contoh, memasak sering diidentikkan sebagai pekerjaan perempuan sehingga laki-laki sering dianggap tabu jika sering berkutat di dapur. Sebaliknya, perempuan sering ditabukan sebagai pencari nafkah meskipun kondisinya mengharuskan melakukannya. Penilaian itu bukan disebabkan pembawaan dari lahir, melainkan merupakan persepsi masyarakat yang ditanamkan hingga berakar. Namun, pertukaran itu tak dapat dilakukan pada alat kelamin.