Stok Langka, PNS Sragen Kelabakan Cari Batik Parang Sukowati. DPRD Duga...

Stok Langka, PNS Sragen Kelabakan Cari Batik Parang Sukowati. DPRD Duga Ada Praktik Monopoli

560
STOK KABUR- Sejumlah PNS terlihat bimbang saat hendak membeli batik Parang Sukowati di Galery Batik Sukowati tapi yang ada hanya stok kain dengan warna kabur. Foto diambil kamis (3/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– DPRD Sragen mengendus indikasi praktik monopoli dalam pengadaan batik Parang Sukowati yang oleh bupati ditetapkan sebagai pakaian seragam wajib bagi PNS. Tidak hanya menguntungkan perajin batik tertentu, kebijakan monopoli itu juga dinilai telah menyusahkan PNS yang sebagian masih kesulitan mencari kain tersebut karena terbatasnya stok.

“Laporan yang kami terima banyak PNS yang belum punya batik itu karena ternyata memang kesulitan mendapatkan barangnya. Karena yang menjual hanya di Batik Sukowati PT Gentrade saja dan stoknya juga terbatas. Berarti kan memang ada monopoli untuk pembuatan maupun penjualannya,” papar Ketua Fraksi PKB DPRD Sragen, Faturrohman, Kamis (3/8/2017).

Menurutnya dengan hanya ditumpukan pada perajin tertentu, maka produksinya akhirnya juga terbatas dan stok di lapangan juga tak bisa diperoleh setiap saat. Hal ini lah yang membuat sebagian PNS akhirnya terpaksa absen dari kegiatan-kegiatan dinas yang diwajibkan bersegaram batik tersebut.

Baca Juga :  Tragis, Pulang Dari Sawah, Petani di Sidoharjo, Sragen Langsung Syok Lihat Rumahnya Sudah Jadi Abu

Kemudian penjualan yang hanya terpusat di PT Gentrade juga dinilai mematikan peluang UMKM lainnya untuk bisa ikut menikmati rezeki dari pengadaan batik PNS. Menurutnya hal itu sangat kontras dengan pemerintahan sebelumnya yang memberi keleluasaan perajin batik untuk memproduksi motif batik Sangiran dan dijual bebas di toko-toko tanpa ada pembatasan.

“Sragen kan banyak perajin. Mestinya peluang ini bisa diberikan secara luas kepada perajin batik untuk membuatnya dan toko yang menjual juga dibebaskan. Sehingga UMKM bisa ikut terangkat. Kalau dimonopoli seperti ini yang menikmati hanya perajin dan kelompok tertentu saja,” tegasnya.

Suharno, salah satu PNS di Setwan menuturkan hingga kini belum memiliki batik Parang karena berulangkali beli ke Galery Batik Sukowati, stoknya selalu kosong.

“Saya kemarin ke sana juga suruh pesen dulu karena gak ada stok. Adanya barang tapi warnanya kabur. Mau cari ke toko lain nggak ada yang jual. Di sini lah susahnya. Harganya paling murah Rp 130.000, yang mahal Rp 200.000,” ujarnya.

Baca Juga :  Hanya Butuh 4 Hari, Perampok dan Pembunuh Mayat di Alaska Kedawung, Sragen Langsung Ditangkap. Ternyata Pelakunya Jaringan Besar..

Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PT Gentrade, Sunindar mengatakan untuk pengadaan batik Sukowati memang menjadi kewenangan PT Gentrade karena hak patennya sudah milik Pemkab. Menurutnya pengadaannya memang diberikan ke satu UKM di Desa Pilang, Masaran namun membawahi beberapa
perajin lain.

“Kemarin kita sudah pesen 10.000, tapi ada 2.000 potong yang kurang baik. Warna kuningnya kurang cerah. Kalau stoknya sebenarnya ada tapi ya itu warnanya agak kabur. Kalau mau, didiskon Rp 10.000, kalu nggak mau ya nanti nunggu baru dipesenkan lagi. Mungkin sekitar tiga minggu kalau nggak ada kendala,” jelasnya. (Wardoyo)

BAGIKAN