JOGLOSEMAR.CO Komunitas Street Art Keren Karya Ibu-ibu di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan

Street Art Keren Karya Ibu-ibu di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan

54
BAGIKAN
Foto-foto : Dok Panitia
Salah seorang peserta saat membuat karya street art di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo.

Malam di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo sejak Sabtu-Rabu  (5-8/8/2017)  cukup semarak.

Bila biasanya terasa sepi dan sunyi, namun beberapa hari lalu begitu meriah dengan kegiatan para warga khususnya yang berada di RT 3 RW VIII.

Dalam rangka memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, warga setempat menggelar beragam perlombaan serta kegiatan kreatif yang cukup unik.

Street art, begitu nama salah satu kegiatan ini, yang melibatkan kaum ibu berusia 45 sampai 65 tahun untuk melukis jalanan kampung.

Lukisan jalan  yang dilukis selama beberapa hari tersebut, menjadi momentum berharga bagi para kaum ibu. Mereka menuangkan setiap ide, kreasi dan juga imajinasinya tentang sebuah hal yang kemudian ditorehkan dalam sapuan cat minyak  di atas aspal jalan kampung.

Foto-foto : Dok Panitia
FOTO BERSAMA — Berfoto bersama di depan karya street art para ibu RT 3 RW VIII di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo.

Mengambil waktu melukis di malam hari, yakni mulai pukul 20.00 WIB -23.00 WIB, rentang waktu tersebut dengan mempertimbangkan waktu luang bagi para ibu,  sejenak melepaskan dari kesibukan dan rutinitas rumah tangga.

Waktu tersebut, sangat pas, karena mampu menyatukan warga, segala lapisan dan usia untuk membaur bersama, dan bergotong-royong.

“Jadi, ide street art ini dari warga setempat juga, khususnya ibu-ibu. Mereka ingin membuat lukisan di jalanan, selain demi menyambut Hari Kemerdekaan RI ke- 72, juga ingin mempercantik lingkungan. Kalau lingkungan sekitar semakin indah, kan kita juga senang, bangga,” kata Bu Suryono, selaku pegiat kegiatan tersebut.

Foto-foto : Dok Panitia
Salah seorang peserta saat membuat karya street art di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo

Ditambahkan oleh salah satu warga, Henri Cholis yang juga dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Surakarta ini,  banyak warga yang merasa tertantang dan ingin melukis jalanan akhirnya hanya mengerucut 6 orang saja.

Dengan latar belakang yang bersinggungan dengan seni, dan punya potensi melukis atau menggambar, mereka penuh percaya diri menghadapi media jalanan kampung tersebut.

Ragam pengembangan motif batik   tertuang dengan sempurna sesuai tema yang diusung yakni  Mengenalkan Kearifan Lokal yang bersumber dari  motif batik seperti truntum, ceplok, sulur suluran  lewat sentuhan stilasi (penggayaan) dan pendistorsian.

“Nah, supaya artistiknya tampak, maka perlu ada sentuhan tentang teknik garap dan  kompisisi  warna. Sketsa dengan media kapur yang sebelumnya sudah dibuat, kemudian diwarnai secara harmonis. Cat minyak sebagai bahan yang dipakai diharapkan bisa bertahan lama dari cuaca. Di sini akhirnya, saya mencoba  mengarahkannya, “terang Henri Cholis kepada Joglosemar, Kamis (9/8).

Namun begitu, ketika kaum ibu sedang serius menekuri karyanya, warga yang lain pun tak ketinggalan berperan serta. Ada yang memberikan dukungan dengan menonton, tapi ada juga yang menyediakan penerangan  jalan, konsumsi dan peralatan melukis.  Bahkan, juga swadaya untuk membeli cat, meskipun begitu dibantu juga dana dari pihak RT.

Foto-foto : Dok Panitia
Salah seorang peserta saat membuat karya street art di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo

Bernostalgia

Antusiasme dan kegembiraan warga, imbuh Henri Cholis terasa sekali saat kegiatan itu digelar. Terlihat kekompakan dan kerukunan di masyarakat, karena memang benar, kami berbeda-beda, namun tidak menghalangi kebersamaan untuk merayakan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia ini.

“Para ibu itu punya potensi dan kompetensi seni masing-masing yang terpendam, akhirnya dengan kegiatan ini mereka menggali dan mengasahnya kembali,” tandasnya.

Hal ini pun diamini, Bu Sonya (38), salah satu ibu yang turut melukis jalanan. Sesungguhnya, ia  lebih menyukai dunia merajut dan origami, namun ternyata ketika diarahkan untuk melukis di jalanan, ia mampu dan hasilnya sangat bagus.

Senada, lewat street art ternyata memberi kesan bagi Bu Waluyo (65), ibu peserta melukis yang paling tua ini. Ia mengaku seperti bernostalgia dan mengulang masa kecilnya ketika pernah belajar membatik dahulu.

“Wah, seneng. Mbatik kaya zamanku isih enom,”ujarnya penuh kegembiraan.

Kegiatan tersebut  juga  disambut baik oleh ketua RT sekaligus RW  yakni  Edi Kurniadi.

Kiki DS