JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Tragis, Pasutri Tuna Netra di Gesi Langsung Syok Dengar Rumahnya Ludes Terbakar

Tragis, Pasutri Tuna Netra di Gesi Langsung Syok Dengar Rumahnya Ludes Terbakar

177
BAGIKAN
LULUH LANTAK- Warga berusaha melokalisir sisa-sisa kobaran api yang melahap rumah milik pasutri miskin dan tunanetra asal Dukuh Bendorejo, Srawung, Gesi, Selasa (29/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Musibah tragis menimpa pasangan Karsono (55)- Suparti (52), warga Dukuh Bendorejo RT 6, Desa Srawung, Gesi. Rumah pasutri yang diketahui tuna netra dan hanya berprofesi sebagai tukang pijat itu diketahui ludes dilalap si jago merah, Selasa (28/8/2017) siang.

Beruntung saat kejadian, rumah dalam kondisi kosong karena keduanya tengah merantau untuk menjalankan profesi pijatnya di Janti, Yogyakarta. Namun kerugan materiil ditaksir mencapai puluhan juta.

Informasi yang dihimpun, kebakaran terjadi pukul 13.15 WIB. Salah satu warga saksi mata, Sutiman, yang tak lain adik kandung korban yang tinggal bersebelahan. Siang itu, ia mendadak dikejutkan dengan suara gemuruh seperti angin dan suara letupan seperti sesuatu yang meledak. Saat keluar, ia sudah mendapati api melahap rumah kakaknya yang siang itu sedang kosong ditinggal memijat.

Kondisi rumah yang terbuat dari kayu dan bambu membuat kobaran api kian tak terkendali. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Api dengan cepat berkobar dan melahap rumah berukuran 8 x 6 meter milik korban.

“Saya dengar gemuruh seperti hembusan angin dan suara pletok-pletok cukup keras. Setelah saya tengok ternyata rumah kakak saya sudah terbakar,” papar Sukiman, kemarin.

Salah satu tokoh setempat, Sri Wahono menuturkan rumah kecil milik korban tersebut ludes berikut isinya. Termasuk sertifikat tanah milik Suparti, ijazah milik anak mereka satu-satunya, Puji Lestari ikut terbakar. Ia berharap pemerintah segera turun tangan membantu mengingat kehidupan korban sangat di bawah layak.

“Karsono dan Suparti sama-sama tuna netra sejak kecil. Hidunya dari tukang pijet di Janti sana. Mereka enggak kenal lelah dengan penghasilan hanya Rp 30.000 sekali pijat. Itu juga untuk membiayai anaknya sekolah di pondok,” ujar Wahono.

Sementara, Karsono tak dapat menyembunyikan kesedihannya setiba di rumah dan mengetahui tempat tinggalnya sudah hancur rata tanah. Untuk sementara, ia terpaksa harus mengungsi di rumah adiknya sembari menunggu bantuan rehab dari pemerintah. (Wardoyo)