Wah Gawat.. Sudah Kematian Tertinggi di Surakarta, 3.310 Ibu Hamil di...

Wah Gawat.. Sudah Kematian Tertinggi di Surakarta, 3.310 Ibu Hamil di Sragen Juga Terdeteksi Berisiko Tinggi

341
DARURAT AKI – Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sragen, Damai Tatag Prabawanto saat memberikan sambutan dalam peringatan HUT IBI ke-66 di Gedung Kartini Sragen, Selasa (1/8/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen melansir sebanyak 3.310 ibu hamil di seluruh wilayah di Sragen terdeteksi dalam risiko tinggi (risti). Tingginya jumlah ibu hamil berisiko tinggi ini memantik perhatian khusus mengingat saat ini jumlah ibu meninggal melahirkan sudah menembus angka 8 kasus hingga Juni 2017 dan tertinggi di eks Karesidenan Surakarta.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKK Sragen, Hargiyanto mengungkapkan berdasarkan data laporan dari semua desa, hingga saat ini jumlah ibu hamil yang terdeteksi dalam kondisi risti mencapai 3.310 orang. Mereka tersebar di semua wilayah kecamatan dengan kondisi risiko yang bervariasi.

Menurutnya rata-rata ibu hamil risiko tinggi itu diketahui mengalami hipertensi, gangguan kesehatan, rendah HB, serta berada dalam usia rentan yakni kurang 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.

“Semua ibu hamil yang masuk kategori risti itu sudah di-thok (ditandai). Jadi ada petugas dari Puskesmas Ponet yang menangani dan memeriksa mereka secara rutin. Enggak masalah,” paparnya di sela-sela menghadiri Peringatan hari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Selasa (1/8/2017).

Salah satu dokter spesialis kandungan Sragen, Rusbandi yang memberikan materi seminar HUT IBI itu, menyampaikan bahwa kasus kematian ibu melahirkan di Sragen saat ini menjadi yang tertinggi di wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Ketua IBI Cabang Sragen, Damai Tatag Prabawanto menyampaikan saat ini jumlah bidan di Sragen mencapai 1.068 dengan 829 diantaranya sudah berKTA. Terhadap target Pemkab menekan AKI di bawah 10, pihaknya sudah menggerakkan semua bidan untuk menjalankan program guyub rukun
nginceng wong meteng dengan memberikan pendampingan dan pemeriksaan rutin terhadap semua ibu hamil hingga melahirkan.

“Tapi tentu semua pihak harus ikut mendukung. Keluarga, suami dan tokoh masyarakat juga harus berperan aktif. Kalau bidan siap mendukung program pemerintah menekan AKI,” tukasnya.

Sementara, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengakui hingga semester pertama 2017 ini, sudah ada 8 kasus kematian ibu melahirkan. Padahal target Pemkab dan bupati angka kematian ibu (AKI) tidak boleh lebih dari 10 kasus.

Atas kondisi itu, ia meminta kepada bidan sebagai garda terdepan untuk lebih mengintensifkan pengawasan terhadap ibu hamil berisiko tinggi di wilayah masing-masing. Tidak hanya itu, tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat dan kepala desa, termasuk suami, juga diharapkan ikut terlibat aktif memperhatikan kondisi ibu hamil di sekitarnya.

“Semua harus waspada. Keluarga, utamanya bapak-bapak juga harus ikut tanggungjawab. Minimal diperiksakan secara rutin. Ada semacam MMT ditandai di sini ada ibu hamil risti. Kami minta komunikasi antara bidan dengan dokter pengampu atau spesialis lebih intensif lagi,” tukasnya.

Ia juga mengingatkan kepada bidan desa, utamanya yang barusaja diberi SK CPNS untuk bersedia tinggal di desa tugasnya. Hal itu dimaksudkan untuk memaksimalkan pelayanan sehingga menekan AKI.

“Pokoke kalau enggak tinggal di desa nanti berurusan langsung dengan Bupati, ” tandasnya. Wardoyo

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR