JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Belasan Warga Tewas di Perlintasan Kalijambe-Miri, PT KAI Dituding Abai Soal...

Belasan Warga Tewas di Perlintasan Kalijambe-Miri, PT KAI Dituding Abai Soal Ini

273
BAGIKAN
EVAKUASI KORBAN- Tim dari Polsek, Polres, PMI dan sejumlah unsur saat mengevakuasi jasad pria asal Mondokan yang tewas digasak kereta api di perlintasan kereta api tanpa palang di Desa Saren, Kalijambe, Minggu (24/9/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Insiden kecelakaan yang merenggut korban jiwa di dua perlintasan kereta api (KA) tanpa palang di Saren Kalijambe dan Kwangen, Gemolong, kembali mencuatkan desakan terhadap PT KAI. Sejumlah pihak di wilayah Sragen Barat mendesak PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera menertibkan bangunan liar yang bercokol di sepanjang lahan PT KAI utamanya di sekitar perlintasan tanpa palang untuk menghentikan korban jiwa.

Desakan itu dilontarkan salah satunya oleh Kasie Trantib Kecamatan Kalijambe, Agus Subagyo. Ia mengungkapkan salah satu pemicu seringnya kecelakaan maut di perlintasan tanpa palang adalah minimnya jarak pandang pengendara akibat tertutup oleh bangunan-bangunan di sepanjang perlintasan.

Karenanya, untuk menekan kecelakaan, menurutnya salah satu solusinya adalah membersihkan bangunan liar agar memberi jarak pandang bagi masyarakat yang hendak menyeberang. Menurutnya ada ratusan bangunan maupun lapak liar yang menutupi sepanjang perlintasan tanpa palang di sepanjang Kalijambe-Miri-Sumberlawang.

“Karena sudah terbukti banyak memakan korban jiwa, maka kami minta PT KAI segera bertindak. Dari dulu diminta menertibkan bangunan yang bercokol di sepanjang lintasan KA. Karena itu mengganggu pandangan, tapi sampai sekarang enggak pernah ada tindaklanjutnya,” paparnya Senin (25/9/2017).

Agus mencatat ada sekitar 10 titik perlintasan tanpa palang dari wilayah Solo-Purwodadi utamanya di sepanjang Kalijambe-Gemolong yang sangat rawan. Diantaranya di wilayah Mendungsari dan Sadon di wilayah Gondangrejo, Karanganyar.

Lalu empat titik maut di Kalijambe mulai di Dukuh Siboto, Dukuh Kaliwuni, perempatan Kalijambe dan di Desa Karangjati. Serta dua perlintasan di wilayah Ngembatpadas Gemolong dan pertigaan Miri juga tak jarang memakan korban jiwa.

Dalam waktu satu tahun setengah terakhir saja, menurutnya sudah ada 15an korban tewas di perlintasan tanpa palang itu. Termasuk tewasnya buruh asal Mondokan dan bayi dalam kandungan ibu asal Bagor, Miri yang tertabrak KA di Kwangen dan Saren, dua hari terakhir.

“Karena itu lahannya milik PT KAI, kewenangan pembongkaran juga ada di
PT KAI,” jelasnya.

Kades Kalimacan, Rodli Slamet juga menuturkan perlintasan Dukuh Siboto di Kalimacan yang tanpa palang memang sangat rawan dan sudah sering memakan korban. Kondisi di dekat perlintasan yang di dekatnya tertutup oleh bangunan memang terkadang menghalangi pandangan sehingga warga yang melintas kadang tak sadar dan langsung menyeberang.
(Wardoyo)