JOGLOSEMAR.CO Litera Cernak Cernak, Nasihat Cicak dan Nyamuk

Cernak, Nasihat Cicak dan Nyamuk

25
BAGIKAN

Karya Bisri Nuryadi*           

Priittt… priiittt.” Pak Yusuf, guru olahraga menyemprit.

Anak-anak kelas tiga berbaris. Rinta berbaris paling depan.

“Eh Lihat, si kaki satu barisnya tidak lurus.” Bisik Tobi kepada Agum.

Agum menanggapi, “Nantikan olahraganya lari, apa dia bisa?”

“Pasti larinya begini.” Tobi memperagakan lari dengan tongkat. Agum tertawa.

Tiba-tiba Pak Yusuf menggertak Tobi dan Agum agar tidak ramai.

Setelah semua terkondisikan, para siswa menjalani pemanasan. Kemudian secara bergiliran para siswa berbaris tiga-tiga untuk melakukan penilaian lari.

Saat giliran Rinta, Pak Yusuf berucap,”Rinta, kamu boleh duduk di sini.”

Mendengar itu Tobi dan Agum tidak setuju. Semua siswa harus lari untuk mendapatkan nilai.

Rinta menyela, “Tidak apa-apa Pak guru. Saya akan berusaha lari.”

Akhirnya Rintapun ikut dalam penilaian lari. Pelan-pelan ia melangkahkan kaki kirinya dan berganti melangkahkan tongkat sebagai ganti kaki kanan.

“Ayo Rinta kamu bisa.” Hanis memberi semangat.

Teman-teman dan Pak Yusuf melihatnya dengan iba, kecuali Tobi dan Agum. Kedua siswa itu malah tertawa.

Setelah semua mendapat nilai, para siswa istirahat. Tobi dan Agum menghampiri Rinta. Lagi-lagi Tobi memperagakan adegan seperti Rinta yang berlari menggunakan tongkatnya.

“Tobi dan Agum. Kalian tidak punya hati nurani ya,” bentak Hanis.

“He… Kamu Jangan ikut campur.” Tobi membalas bentakan.

“Tidak usah ditanggapi, Hanis,” sela Rinta.

Tobi menyahut, “Jalan saja susah, bagaimana kalau besok sudah dewasa. Mau kerja apa?”

Tobi dan Agum tertawa lagi dan pelan-pelan meninggalkan Rinta dan Hanis. Mendengar ejekan itu, Rinta sedih.

 

***

Siang itu Rinta pulang dengan wajah murung. Ini yang membuat neneknya merasa kebingungan. Dalam keadaan seperi itu pikiran Rinta terbang ke masa silam, tepatnya dua tahunan yang lalu.

Saat itu ia menaiki mobil bersama bapak dan ibunya untuk berlibur ke puncak. Namun, mobilnya ditabrak oleh sedan yang oleng dari arah berlawanan. Akhirnya mobil Rinta jatuh ke jurang. Karena kejadian itu Rinta harus kehilangan kedua orangtua sekaligus kaki kanannya. Malamnya Rinta menangis.

“Ada apa, Cu?” Nenek mendekat.

Rinta tetap menangis. Nenek berusaha untuk menenangkannya.

“Ceritalah, Cu. Siapa tahu nenek bisa membantu.”

Setelah dibujuk, pelan-pelan Rinta membuka mulutnya. Ia menceritakan kejadian waktu diejek teman sekelasnya tentang pekerjaan di masa depan.

Eehh.. Cucu Rinta tidak boleh sedih gara-gara ejekan itu. Setiap orang sudah diatur rezekinya.”

“Bagaimana dapat rezeki, Nek. Untuk bekerja saja Rinta tidak bisa.”

Neneknya diam sebentar dan sejenak melihat ke atas dinding seakan mencari sesuatu.

“Coba sekarang Cucu Rinta lihat cicak di atas.”

Rinta melihat seekor cicak sedang diam membatu.

“Kira-kira cicak itu sedang apa, Cu?”

Rinta menggelengkan kepala.

“Coba tunggu sebentar lagi.”

Rinta mengikuti perintah nenek. Ditunggunya cicak tersebut. Beberapa saat kemudian cicak berjalan pelan lalu cepat, dan “hap…” Ia menangkap seekor nyamuk.

“Kamu tahu maksudnya, Cu?”

Rinta menggelengkan kepalanya lagi.

Nenek tersenyum dan mengingatkan bahwa cicak itu tidak punya sayap. Namun sumber makanan cicak adalah hewan yang bersayap seperti nyamuk tadi. Jika dipikir-pikir memang tidak masuk akal. Namun cicak selalu bisa menangkap mangsanya yang bisa terbang.

“Tapi kan Rinta tidak punya kaki kanan.” Rinta sedih lagi.

Neneknya kembali menasihati bahwa Rinta masih punya kaki kiri dan kedua tangan. Apalagi selama ini Rinta sering menulis puisi. Jika keterampilan menulis diasah setiap hari, maka suatu saat akan bisa menjadi penulis hebat.

“Begitu juga dengan cicak itu, Cu. Ia juga harus belajar terlebih dahulu untuk bisa menangkap seekor nyamuk.”

Rinta mengusap air matanya.

“Cucu Rinta juga harus tahu. Untuk menjadi seorang yang hebat harus menjalani ujian termasuk ejekan teman di sekolah tadi,” lanjut nenek.

Kini Rinta hanya bisa manggut-manggut. Nenek menambahkan bahwa sesuatu yang sudah terjadi jangan pernah disesali. Namun kita harus bisa memperbaiki hari ini untuk mimpi di esok hari.

Sejak saat itu Rinta tidak lagi merasa sedih jika diejek. Dengan belajar menulis secara tekun, ia yakin akan bisa menghasilkan karya yang belum tentu orang lain bisa melakukannya. #

*Penulis tinggal di Bolon,  Colomadu, Karanganyar.