JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Perlintasan KA Tanpa Palang di Sragen Ini Renggut 2 Nyawa

    Perlintasan KA Tanpa Palang di Sragen Ini Renggut 2 Nyawa

    404
    BAGIKAN
    Ilustrasi

    SRAGEN- Perlintasan kereta api (KA) tanpa palang pintu di sepanjang jalur Kalijambe-Sumberlawang, Sragen semakin menujukkan keganasannya. Dua nyawa melayang akibat digasak kereta api saat melewati perlintasan tanpa palang pintu di wilayah Saren, Kalijambe dan di Dukuh Candirejo, Kelurahan, Kwangen, Gemolong.

    Korban pertama adalah Sugiyono (42), warga Dukuh Lareng RT 3.5, Desa Gemantar, Mondokan. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh itu ditemukan tewas mengenaskan setelah tertabrak kereta api Kalijaga di perlintasan tanpa palang Dukuh Salam RT 13, Desa Saren, Kalijambe, Minggu (24/9/2017) pagi pukul 06.37 WIB.

    Informasi yang dihimpun di lapangan, kecelakaan maut itu bermula ketika pagi itu korban hendak berangkat bekerja. Ia mengendarai sepeda motor Honda Supra X bernopol B 6569 EBE. Korban yang melaju dari arah Kalijambe berniat menyeberang perlintasan KA di Saren untuk menyingkat perjalanan.

    Nahas, saat korban melintas di atas rel, mendadak dari arah selatan melaju KA Kalijaga jurusan Solo-Semarang dengan kecepatan tinggi. Karena jarak sangat dekat, korban tak bisa lagi menghindar. Tanpa
    ampun sepeda motor berikut korban tergasak dan terseret sejauh beberapa meter oleh KA bernomor Loko CC 2018324 yang dimasinisi Catur Cahyono tersebut.

    Korban akhirnya tewas dengan lupa parah di bagian kepala belakang dan kedua kaki serta tangan patah. Demikian pula, sepeda motor yang dikendarainya ringsek tak berbentuk. Menurut sejumlah saksi mata, sebenarnya saat melintas di atas rel, korban sempat diingatkan oleh Hari Mukti (30) warga Wonorejo, Kalijambe yang berada di seberang rel.

    Namun korban rupanya tidak mendengarkan dan nekat menyeberang. Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyampaikan dari hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan di tubuh korban. Buruh itu dipastikan tewas akibat kecelakaan saat melintas di perlintasan tanpa palang di Saren, Kalijambe.

    “Sebenarnya saat hendak melintas, beberapa warga di seberang rel yang mengetahui ada kereta dari selatan, sempat meneriaki dan mengingatkan korban. Tapi mungkin korban tidak mendengar dan tetap nekat menyeberang,” paparnya kepada wartawan.

    Selesai dievakuasi, jasad korban langsung diserahkan ke pihak kerabat untuk dimakamkan. Menyusul tewasnya Sugiyono, kabar duka juga datang dari Sulastri (32), ibu muda asal Dukuh Tegalrejo, RT 4, Bagor, Miri, Sragen yang digasak KA semen di perlintasan Dukuh Candirejo, Kwangen, sehari sebelumnya.

    Meski perempuan yang berjualan bakso itu bisa selamat, namun bayi di kandungannya yang diketahui sudah waktunya dilahirkan, akhirnya tak tertolong. Sempat dirujuk ke beberapa rumah sakit hingga terakhir ke RS di Solo, bayi Sulastri akhirnya meninggal, Minggu (24/9).

    “Kabar yang kami terima, ibunya selamat, tapi bayi yang di kandungan meninggal. Bayinya sudah umur 9 bulan dan waktunya melahirkan. Kejadiannya itu pas dia bersama suaminya habis periksa kehamilan di Gemolong. Tapi pakai sepeda motor sendiri-sendiri. Istrinya di depan, suaminya mengiring di belakang. Pas nyeberang palang pintu di Kwangen, ada kereta lewat dan istrinya yang di depan tertabrak,” papar Kades Bagor, Miri, Kukuh Riyanto, kemarin.

    Kukuh menyampaikan sesaat seusai kejadian, ibu malang itu sempat dilarikan ke RS Yakssi Gemolong. Karena kondisinya memburuk, ia kemudian dirujuk ke RSUD Dr Soehadi Prijonegoro Sragen. Dari pihak RSUD, korban kemudian dirujuk ke Solo untuk menyelamatkan bayi di kandungan korban yang kondisinya sudah kritis. Sayangnya, upaya itu gagal dan bayi Sulastri tetap tidak terselamatkan.

    Maraknya kecelakaan yang merenggut korban jiwa di sepanjang lintasan KA tanpa palang di Sragen Barat itu mengundang kecaman dari tokoh dan warga setempat. Kasie Trantib Kecamatan Kalijambe, Agus Subagyo mendesak PT KAI untuk memasang rambu atau lampu sinyal di kanan kiri perlintasan tanpa palang untuk peringatan kepada warga.

    Selain itu ia juga meminta PT KAI menertibkan bangunan liar di deretan lahan dekat lintasan tanpa palang yang selama ini membuat pandangan pengendara tertutupi sehingga sering lalai tak melihat ada kereta lewat.

    “PT KAI jangan hanya diam dan menganggap ini kecelakaan biasa. Sudah nggak terhitung nyawa yang terenggut di perlintasan tanpa palang. Warga juga nggak serta merta bisa disalahkan karena mereka juga butuh akses transportasi. Mestinya PT KAI melakukan upaya untuk pengamanan bukan seolah membiarkan,” jelasnya. # Wardoyo