JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Banyak Kepala Daerah Kena OTT KPK, Begini Strategi Bupati Karanganyar

Banyak Kepala Daerah Kena OTT KPK, Begini Strategi Bupati Karanganyar

68
BAGIKAN
Juliyatmono, Bupati Karanganyar. Joglosemar’/yok

SRAGEN– Maraknya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kepala daerah yang
terindikasi korupsi, mendapat reaksi berbeda dari Bupati Karanganyar, Juliyatmono. Ia mengaku sama sekali tak risau dengan OTT KPK karena merasa memang tidak melakukan hal-hal seperti yang dilakukan kepala daerah korban OTT.

Saat ditanya tentang potensi OTT KPK, Yuli mengaku sama sekali tak merasa khawatir ataupun risau. Sebab dirinya merasa selama ini selalu berusaha menjalankan tugas sesuai dengan rel aturan.

“Nggak nggak ada khawatir. Lha wong nggak pernah melakukan hal-hal seperti itu kenapa harus khawatir,” paparnya ditemui di Rumdin Bupati, kemarin.

Saat ditanya apakah trik dan kiatnya untuk menyikapi maraknya OTT KPK, Yuli juga mengatakan tak ada antisipasi atau persiapan apapun. Hanya saja, ia menyampaikan selama hampir lima tahun memegang pucuk pemerintahan di Karanganyar, ia memang memilih menghindari bertemu dengan pihak ketiga.

Hal itu dilakukan untuk menghindari persepsi atau hal-hal yang tidak diinginkan. Menurutnya, ia lebih memilik banyak terjun ke lapangan dan di tengah masyarakat sehingga meminimalisir ada pihak ketiga yang menemui di kantor maupun di rumah dinas.

“Bisa dilihat, hampir jarang saya terima tamu pihak ketiga di rumdin atau kantor. Karena saya memang lebih suka di lapangan. Duduk di kantor itu ra betah. Paling di kantor cuma kalau rapat-rapat dengan SKPD bagi tugas atau tandatangani surat,” paparnya.

Ia justru memandang kasus-kasus korupsi atau suap birokrasi yang menyeret sejumlah kepala daerah tertangkap OTT, itu lebih banyak berangkat dari isu opini. Khusus untuk pelantikan pejabat, ia menegaskan tidak semua daerah atau kepala daerah bisa digeneralisir menarik uang kepada pejabat yang dilantik.

“Setiap mengangkat pejabat struktural, saya selalu tekankan jangan pernah menyuap kepada siapapun, toh tidak kepada saya. Saya melantik atau menggeser itu pendekatannya dari banyak aspek, disiplin ilmu termasuk kinerja bukan dari like dislike. Makanya nggak pernah ada kasak kusuk,” tegasnya.

Soal situasi birokrasi yang kerap turut andil mendorong OTT, Yuli memastikan hal itu tidak terjadi di Karanganyar. Ia mengklaim iklim birokrasi di Karanganyar adalah yang paling nyaman di Indonesia. Ia mengaku tak pernah mengganggu kinerja birokrat namun hanya ingin mendorong mereka melakukan percepatan kinerja.

“Karena masih banyak yang agak keteteran,” tukasnya. (Wardoyo)