JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Pelebaran Jalur Grompol-Masaran Makan Korban. Dishub Ajukan Pembongkaran Median

Pelebaran Jalur Grompol-Masaran Makan Korban. Dishub Ajukan Pembongkaran Median

1152
BAGIKAN
Ilustrasi

SRAGEN– Pelebaran jalur Solo-Sragen di wilayah Masaran menjadi empat lajur ternyata menimbulkan dampak lain. Pembangunan median pembatas di tengah jalan di wilayah Karangmalang, Masaran memantik protes dari pengusaha beras dan pengelola industri plastik wilayah itu yang kesulitan mendapatkan akses untuk armada mereka.

Keresahan itu terungkap dari keberatan yang diajukan oleh salah satu pengusaha beras asal Karangmalang, Mulyono. Pengusaha beras skala besar di Sragen yang berlokasi di tepi jalur Solo-Sragen itu melayangkan aduan ke Dinas Perhubungan yang intinya meminta agar median di depan usahanya dibongkar untuk memberi akses jalan bagi armada-armada besar dari perusahaannya.

Kepala Dishub Sragen, Muhari menyampaikan memang ada permintaan dari pengusaha beras asal Karangmalang itu agar median di depan usahanya dibongkar. Hal itu dimaksudkan agar armada truk besar bisa melintas dan tidak kesulitan untuk memutar.

“Ya, memang kemarin ada permintaan dari Pak Haji Mulyono itu. Karena kesulitan untuk akses armadanya yang tertutup oleh median jalan. Karena akses muternya cukup jauh di dekat Pom Bensin Jati dan dekat Tugu Gading Grompol. Kemarin sudah kami ajukan ke Tim BP7 yang punya kewenangan agar median dibongkar agar bisa dibuat untuk manuver truknya,” paparnya kemarin.

Muhari menguraikan desakan pembongkaran median itu juga dikarenakan di dekatnya ada industry plastik skala besar yang juga butuh akses untukbputar armada. Dengan kondisi semua jalur tertutup median jalan saat ini, maka armada besar yang ingin menyeberang juga kesulitan karenanharus mencari jalur putar cukup jauh.

Pihaknya sangat berharap usulan pembongkaran median bisa disetujui oleh BP7. Pasalnya Sragen adalah penyangga beras terbesar kedua di Jateng. Selain itu, industry plastik di Karangmalang juga kapasitasnya besar dan butuh akses keluar masuk armada yang memadai.

“Di situ sekarang sudah ditetapkan jadi kawasan industri dan cukup menyerap banyak tenaga kerja. Makanya akses juga tetap kitabperhatikan,” jelasnya.

Kasie Manajemen Rekayasa Lalin, David Hendrata menambahkan untuk jalur penyeberangan truk itu setidaknya membutuhkan lebar 13 sampai 15 meter mengingat kebanyakan armada truknya bersumbu tiga. ‘Kami tetap mengawal pengajuan ke BP7,” jelasnya. (Wardoyo)