JOGLOSEMAR.CO Education Anin Astiti,  Dosen ISI Surakarta yang Populerkan Lagi Photogram

Anin Astiti,  Dosen ISI Surakarta yang Populerkan Lagi Photogram

37
BAGIKAN
Joglosemar | Kukuh Subekti

Fotografer ialah pekerjaan menyenangkan bagi mereka yang cinta dan memiliki keterampilan memotret. Di tangan mereka, setiap momen sederhana bisa menjadi sesuatu yang langka nan berharga.

Inilah kegiatan yang rutin dijalani oleh Anin Astiti di tengah- tengah kesibukannya sebagai dosen di Jurusan Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Tapi Anin bukan fotografer komersial yang menjual karyanya demi rupiah, dia tetap setia dengan tugasnya sebagai seorang dosen.

Ibu muda dengan dua orang anak ini menganggap dunia fotografi sebagi sarana apresiasi. Banyak karyanya yang dia tampilkan hanya sebagai sebuah karya fotografi tanpa niat untuk mengomersialkan. Tema fotografi yang paling disukainya adalah tentang kehidupan kota yang sibuk serta gerak kota yang dinamis.

“Saya kurang telaten dalam urusan bisnis, saya memutuskan  pure untuk berkarya. Artinya, jika berkarya saya berikan untuk apresiasi,” ujarnya  kepada Joglosemar saat ditemui di ruang kerjanya  belum lama ini.

Selain memiliki tema khusus di setiap karyanya, alumni ISI Yogyakarta ini memiliki style berbeda dalam karyanya. Anin  kini lebih memilih mengembangkan teknik photogram kamar gelap. Sejak dua tahun terakhir dia mulai fokus pada teknik kamar gelap, sebuah teknik pengambilan gambar yang di era digital ini mulai ditinggalkan orang.

Menurutnya proses perkembangan dunia fotografi di awali dari photogram, dengan kamar gelapnya.

“Saya berusaha menggali memunculkan kembali  teknik lama namanya photogram, yang sempat berkembang di era analog,” tuturnya.

Dok Pribadi

Seniman selalu menjadi inspirasi bagi seniman lainnya dalam hal berkarya. Begitupun Anin dengan semangatnya menggali kembali nilai estetik dalam photogram diharapkan mampu memotivasi para mahasiswanya di ISI Surakarta. Baik sebagai bahan penulisan tugas karya tulis maupun karya fotografi.

Baginya, photogram memiliki nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan dunia digital utamanya jika dilihat dari esensi sebuah fotografi.

Pada tahun 2016, Anin membuat pameran fotografi photogram tunggal di Restoran Kusuma Sari Solo dan belum lama ini pada tahun 2017 dia menampilkan karya serupa di Awor Coffee and Gallery, YAP Square, Yogyakarta. Pameran fotografi tunggal yang bertajuk Ville En Noir diambil dari bahasa Perancis yang artinya kota.

Kota- kota favorit Anin dalam mengambil objek photogramnya adalah Solo, Yogyakarta dan Jakarta. Mulai dari hiruk pikuk di trotoar jalan kota hingga keramaian sebuah kafe.

Pembuatan karya photogram bagi Anin memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Diawali dengan membuat sketsa objek yang diinginkan, mencari pernak- pernik pendukung photogram, menempelkannya pada kertas foto. Belum lagi selama masa pengerjaan harus jeli menentukan jarak antar objek hingga hasil yang diinginkan.

“Photogram kan tidak ada negatifnya jadi kalau salah ya harus ngulang lagi paling banyak sampai enam kali baru jadi, pernah juga sekali langsung jadi,” ucapnya.

Biaya produksi untuk pembuatan photogram cukup mahal untuk 100 lembar kertas foto berukuran 10R dia bisa menghabiskan Rp 1juta. Belum lagi material-material seperti bahan pembuatan maket yang digunakan sebagai pendukung photogram. Meskipun kadang-kadang materi photogram bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar misalnya kertas sampul, tisu, kain, beras tentu saja sesuai sketsa yang sudah dibuat dan hasil bayangan yang diinginkan.

“Saya tertarik dengan photogram karena bayangan yang dihasilkan di kertas foto, kertas foto itu kan sensitif cahaya makanya pengerjaan harus di kamar gelap,” terangnya. #Kukuh Subekti