JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen DKK Ungkap Banyak Penderita Stroke dan Jantung, Bupati Canangkan Gemar Buah dan...

DKK Ungkap Banyak Penderita Stroke dan Jantung, Bupati Canangkan Gemar Buah dan Sayur

108
BAGIKAN
BUAH DAN SAYUR- BUpati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Wabup Dedy Endroyatno saat mencanangkan program gemar makan buah dan sayur dalam peringatan Hari (Kesehatan Nasional (HKN) 2017 di Pemkab, Minggu (12/11/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Pemkab Sragen menargetkan tahun 2019, tidak ada lagi warga yang buang air besar sembarangan (BABS). Selain itu, Pemkab juga sudah menyiapkan pembangunan rumah sakit tipe D di wilayah Jenar tahun 2018 dengan dana Rp 25 miliar.

Hal itu disampaikan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati di sela peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) di halaman Pemkab Sragen, Minggu (12/11/2017). Ia mengharapkan momentum HKN tahun ini ada beberapa target. Diantaranya angka kematian ibu (AKI) dan anak tidak sampai melampaui angka 10. Hingga bulan November ini, angka AKI mencapai 9 kasus.

“Tahun 2019 saya targetkan masyarakat tidak ada yang BABS lagi alias zero BABS. Saat ini baru 3 kecamatan yang bebas BABS. Yang lainnya harapannya bisa bertahap sehingga 2019 bisa zero BABS,” paparnya.

Menurutnya ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk mempercepat target bebas BABS itu. Meski anggaran dicoret di 2018, nantinya masih bisa dilakukan secara mandiri dengan pakai dana desa atau CSR.

Untuk angka gizi buruk atau gizi kurang, Yuni mengklaim masih ada meski sudah lebih baik. Ia mengatakan gizi buruk dan kurang itu kebanyakan ada di Sragen utara dengan faktor penyebab karena pola asuh dan mind set warga pula. Ia juga menyampaikan tahun 2018, salah satu program prioritas adalah pembangunan RS tipe D di Jenar dengan anggaran fisik Rp 25 miliar.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto mengungkapkan di HKN 2017 ini harapannya bisa meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat melalui pemenuhan 12 standar pelayanan nasional (SPN). Kemudian, pihaknya bertekad mengurangki angka penyakit yang tidak menular namun berbahaya seperti hipertensi, diabetes, stroke dan jantung.

“Salah satu penyebabnya karena pola hidup dan makan kita yang salah. Makanya ini dicanangkan budaya gemar makan sayur dan buah,” jelasnya.

Perihal kasus gizi buruk, Hargiyanto mengklaim sudah tidak ada. Untuk AKI saat ini mencapai 9 kasus dan masih di bawah target maksimal 10 dalam setahun. Sedangkan untuk kematian anak bayi dan balita, sepanjang 2017 ini mencapai 140 kasus. Mayoritas karena diare, namun angka itu diklaim masih di bawah target nasional dan provinsi. (Wardoyo)