JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo DKK Solo Khawatir Peningkatan Jumlah Perokok Baru

DKK Solo Khawatir Peningkatan Jumlah Perokok Baru

107
BAGIKAN

SOLO– Gerakan bebas asap rokok kembali digencarkan. Sejumlah kecamatan menlakukan deklarasi bebas asap rokok. Namun Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta masih khawatir jumlah perokok baru meningkat di Kota Solo.

Purwanti, Sekertaris DKK Surakarta mengatakan, deklarasi bebas asap rokok telah dilakukan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Laweyan dan Kecamatan Jebres. Namun, belum sepenuhnya wilayah di dua kecamatan tersebut bebas asal rokok.

Purwanti mengungkapkan di dua kecamatan tersebut, hanya bebrapa wilayah RW yang menjalankan gerakan bebas asap rokok. Ada beberapa indikator, di antaranya tidak merokok di dalam rumah, tidak menyediakan asbak di dalam rumah, tidak merokok saat pertemuan warga dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.

“Deklarasi gerakan anti asap rokok ini baru langkah awal. Di mulai dari wilayah RW menjadi kawasan tanpa asap rokok,” ujarnya, Senin (11/12).

Ia menilai gerakan ini hanya bersifat preventif dengan tujuan membangun kesadaran masyarakat untuk menjalani pola hidup besih sehat, dengan bebas asap rokok sebagai salah satu indikatornya.

Setidaknya ada tiga ruang lingkup yang menjadi perhatiannya, yakni linngkungan masyrakat fasilitas umum dan lingkungan sekolah.  Meski baru langkah awal deklarasi bebas asap rokok setidaknya menjawab tantangan untuk membangun kesadaran di masyarakat.  Namun untuk lingkungan sekolah dinilai masih menjadi tantangan. Pihaknya khawatir jumlah perokok baru di Solo meningkat.

“Yang dikhawatirkan perokok baru. Artinya anak-anak usia yang sudah mulai merokok. Ini harus dicegah sedini mungkin,” kata dia.

Purwanti mengungkapkan angka riset kesehatan dasar nasional menunjukan adanya kenaikan perokok baru. Bahkan kenaikan mencapai 14 persen. “Kalau dulu mereka merokok di usia 14 tahun,  sekarang di usia11 tahun,” ungkapnya

Ia berharap seluruh pihak terpanggil untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan. Orangtua dan pihak sekolah juga diharapkan meningkatkan pengawasan dan pembinaan.

Di sisi lain,  regulasi yang mendukung gerakan bebas asap rokok di Kota Solo tergolong lambat. Purwanti mengungkapkan upaya mewujudkan kawasan bebas asap rokok dan kawasan terbatas merokok sudah dilakukan tahun 2010 dengan terbitnya Perwali 13/2010. Namun hingga saat ini belum juga terbit perda. “Mungkin baru di tahun 2018,” pungkasnya.

#Arief Setiyanto

.