JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Jembatan Putus Akibat Banjir dan Longsor Bawa Penderitaan

Jembatan Putus Akibat Banjir dan Longsor Bawa Penderitaan

217
BAGIKAN
Joglosemar | Aris Arianto
MATERIAL LONGSOR- Upaya membersihkan material longsor yang menutup jalan dengan alat berat maupun peralatan sederhana di Kecamatan Karangtengah, Minggu (3/12/2017).

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Wonogiri juga berdampak besar bagi pelaku usaha mikro kecil menengah. Mereka tidak bisa berbelanja bahan hingga macet berproduksi.

Kalangan UMKM di kecamatan Tirtomoyo, contohnya, yang merasakan langsung imbas banjir dan longsor selama beberapa hari terakhir. Ambrolnya jembatan di kawasan itu membuat sejumlah pengusaha kecil kelabakan.

“Sempat tidak bisa produksi, karena banyak jembatan putus. Sehingga kami tidak bisa belanja bahan-bahannya, kain dan bahan lainnya,” ungkap pengusaha batik tulis di Kecamatan Tirtomoyo, Aris.

Tidak hanya produk batik yang terdampak. Pengusaha genting dan batu bata merasakan hal serupa. Salah satunya dialami Prapto, warga Dusun Taman, Desa Wiroko Kecamatan Tirtomoyo. Banjir bandang membuat kerajinan itu tersendat.

“Kasihan toko-toko material, stok mereka kosong. Mereka mau mengambil ke sini tidak bisa, karena banjir dan longsor. Kami mau mengirim juga sama, tidak bisa,” kata dia.

Terlebih lagi imbuh Prapto, dengan ambrolnya satu-satunya jembatan yang ada di desanya itu, akses penjualan terganggu. Meski begitu, pekan depan dirinya bakal kembali bekerja membuat genting dan batu bata. Pasalnya, sebelum banjir, sejumlah pesanan telah dia terima.

“Sebenarnya sudah banyak konsumen yang telpon pesan genting,” jelas dia.

Longsor yang menerjang Dusun Bengle RT 1 RW5, Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo, juga menyebabkan kerugian bagi perajin minyak daun cengmih dan pekebun cengkih. Kabul warga setempat harus merelakan sejumlah pohon emasnya itu hancur diterjang material longsor.

“Pohon cengkih yang diterjang longsor itu posisinya di ladang. Ada tujuh batang,” ujar dia.

Menurut dia, tujuh pohon cengkih tersebut rata-rata sudah berusia sekitar 30 tahun. Saat ini, pohon- pohon cengkih itu tengah memasuki musim berbunga. Beberapa bulan lagi bunga cengkih itu sudah siap panen.

“Padahal, pohon cengkih itu terbilang produktif dibandingkan pohon cengkih yang saya tanam di pekarangan rumah. Hasilnya jauh bagus yang di ladang itu sebenarnya.Tapi, bagaimana lagi wong sudah begini,” tutur pria beranak satu ini.

Saat musim panen, setiap satu pohon bisa menghasilkan sekitar satu kuintal cengkih. Harga cengkih sendiri menurut Kabul berubah-ubah. Seperti saat ini harga cengkih bisa tembus Rp 40.000 per kilogramnya.

“Jika saat harga sedang bagus seperti saat ini, Rp 40.000 per kilonya, satu pohon hasilnya paling jelek Rp 2 juta,” beber dia.

Banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Wonogiri membuat sejumlah perahu milik nelayan hanyut.

“Sudah saya coba mencarinya dengan menggunakan jala ikan, siapa tahu kapal kayu beserta mesinnya karam akibat diterjang banjir bandang, tapi sampai saat ini belum ketemu juga,” papar nelayan asal Kecamatan Baturetno, Sudarno (56).

Sebelum kejadian, lanjut dia, dirinya pulang menangkap ikan di WGM. Kemudian, perahu satu-satunya alat untuk mengais rejeki ditambatkan di tempat biasanya meletakkan perahu.

“Saya tak menyangka kalau banjir itu besar sekali. Padahal kalau sungai banjir di area genangan ini tidak terdampak tapi kali ini memang dahsyat,” kata dia.

Selain perahu, jelasnya, peralatan untuk menangkap ikan seperti jala dan jaring ikut hanyut. Kondisi ini juga dialami oleh nelayan lainnya. Bahkan jumlahnya mencapai 50-an perahu yang hanyut di tempat tambatan Dusun Menerejo Desa Glesungrejo itu,

“Kalau kerugian saya perahu dan mesin jika ditotal kerugiannya ya sekitar Rp 6 juta,” tandas dia.

Untuk sementara waktu dia mengaku akan mencari ikan di aliran sungai terdekat sambil mencari modal untuk kembali membeli perahu. Selama ini dia menggantungkan hidupnya dan keluarga dari hasil mencari ikan di perairan WGM.

“Semoga ada bantuan buat kami, barangkali saja pemerintah mau mendengar keluhan kami ini,” tandas dia. # Aris Arianto