Sejarah Jogja Dari Dulu Hingga Sekarang

376

Daerah Istimewa Yogyakarta atau lebih akrab dengan sebutan Jogja merupakan wilayah dengan otonomi daerah yang istimewa. Ketika provinsi lain dipimpin oleh Gubernur yang dipilih rakyat, Jogja dipimpin oleh Sultan. Yang mana status Daerah Istimewa tersebut sesuai dengan runutan sejarah dari berdirinya provinsi Jogja, baik sebelum ataupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Anda tertarik dengan sejarah Jogja ? Yuk simak informasinya dalam ulasan ini.

Sejarah Singkat Jogja Daerah Istimewa Yogyakarta

Merujuk pada Babad Gianti, Yogyakarta atau dalam bahasa Jawanya Ngayogyakarta merupakan nama yang diberikan oleh Paku Buwono II sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta merupakan Yogya yang kerta atau Yogya yang makmur, sementara Ngayogyakarta Hadiningrat bisa diartikan: Yogya yang makmur dan yang paling utama. Akan tetapi terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa nama Yogyakarta diambil dari kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana.

sejarah jogja
sejarah jogja

Di kehidupan sehari hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja atau diucapkan nama bahasa Jawanya Ngayogyakarta. Sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, daerah otonom ini sudah memiliki tradisi pemerintahan sendiri. Sebab Jogja adalah Kasultanan yang termasuk di dalamnya telah terdapat Kadipaten Pakualaman. Di zaman kemerdekaan, wilayah satu ini disebut dengan nama Daerah Swapraja.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh pangeran Mangkubumi yang kemudian mendapatkan gelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755. Sementara Kadipaten Pakualaman berdiri sejak 1813 yang didirikan oleh Pangeran Notokusumo, yang kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Dalam sejarah Jogja, baik Kasultanan maupun Kadipaten diakui oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri.

Kontrak politik tersebut diberi nama perjanjian Gianti pada tanggal 13 februari 1755, yang ditandatangani oleh pihak Belanda atas nama Gubernur Jenderal Jacob Mossel di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartigh. Dimana isi perjanjian tersebut membagi negara Mataram menjadi dua bagian, setelah bagian masih menjadi hak Kerajaan Surakarta dan setengah lagi menjadi hak Pangeran Mangkubumi.

Yang mana semua pernyataan tersebut tertuang dalam kontrak politik. Kontrak terakhir politik Kasultanan ini tercantum dalam Staatsblad 1941 Nomor 47 dan politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577. Pada saat Indonesia mengumandangkan proklamasi kemerdekaan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden Republik Indonesia saat itu.

Yang mana mereka menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu untuk mewujudkan kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dimana Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Sultan Paku Alam VIII sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah, yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.

Dalam sejarah Jogja, sejak 4 januari 1946 hingga 17 desember 1949 daerah tersebut menjadi Ibukota Republik Indonesia. Yang mana di masa perjuangan merupakan saat saat yang sangat mendebarkan. Pasalnya jika saat itu ibukota Indonesia tidak segera dipindahkan, bisa saja kemerdekaan Indonesia tamat riwayatnya. Ketika ibukota di pindahkan ke Jogja, para pemimpin pemimpin bangsa berkumpul dan berjuang bersama mengusir penjajah.

Hingga kemudian banyak dari pejuang tersebut yang memiliki kenangan tersendiri di daerah istimewa ini. Apalagi ketika selesai perang para pemuda pejuang tersebut memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Gajah Mada, sebuah universitas negeri pertama yang didirikan oleh Presiden republik Indonesia. Didirikannya universitas ini juga menjadi momentum hidup untuk memperingati perjuangan masyarakat Yogyakarta.

Daerah Istimewa Yogyakarta Saat Ini

Hingga saat ini, Yogyakarta masih dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan didampingi oleh Puro Pakualaman Sri Paduka Paku Alam IX. Di dalam sejarah Jogja keduanya memiliki peran penting dalam menentukan pemeliharaan nilai nilai budaya dan adat istiadat Jawa, sekaligus berperan sebagai pemersatu masyarakat Yogyakarta. Jogja tidak melakukan pemilihan gubernur dan wakil gubernur, sebab pimpinan daerah tersebut dijabat oleh Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam.

Dengan menggunakan dasar dari pasal 18 Undang undang Dasar 1945, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Yogyakarta menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa tetap lestari. Yang mana dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan pemerintahan daerah yang sepatutnya dihormati. Sebagai daerah otonom yang memiliki bentuk setingkat provinsi, Jogja dibentuk berlandaskan Undang Undang nomor 3 tahun 1950 yang disesuaikan dengan maksud pasal 18 UUD 1945.

Dimana dalam pasal tersebut disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi bekas Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman. Sebagai ibukota provinsi, kota Yogyakarta memiliki banyak julukan mulai dari kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pariwisata, hingga kota pelajar. Sebutan untuk kota perjuangan berkaitan dengan peran Jogja dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, Jepang, dan mempertahankan kemerdekaan RI.


Selain itu menurut sejarah Jogja, provinsi satu ini juga pernah menjadi pusat kerajaan. Baik itu kerajaan Mataram Islam, kesultanan Yogyakarta, dan juga kadipaten Pakualaman. Sehingga sebutan kota kebudayaan ada kaitan erat dengan peninggalan peninggalan budaya yang mempunyai nilai tinggi tersebut, dari zaman kerajaan hingga kini yang masih tetap lestari. Selain itu, sebutan kota kebudayaan juga berkaitan dengan banyaknya pusat seni dan budaya.


Sementara predikat kota pelajar memiliki kaitan erat dengan sejarah dan juga peran kota Yogyakarta dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selain karena memiliki berbagai pendidikan pada setiap jenjang, di Yogyakarta juga terdapat banyak pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan. Sehingga tidak salah jika kota satu ini memiliki julukan miniaturnya Indonesia.
Menyabet gelas sebagai kota pariwisata, hal tersebut menggambarkan besarnya potensi Jogja dalam kacamata kepariwisataan. Bisa dikatakan kota satu ini merupakan daerah destinasi wisata terbesar kedua di Indonesia, setelah pulau Bali. Berkunjung ke kota ini Anda akan disuguhkan berbagai jenis destinasi wisata yang dikembangkan, mulai dari wisata alam, wisata sejarah Jogja, wisata pendidikan, wisata budaya, dan juga wisata malam.


Demikian penjelasan mengenai sejarah singkat Yogyakarta yang perlu Anda ketahui. Menjadi salah satu daerah istimewa di Indonesia, kota satu ini memiliki begitu banyak potensi wisata. Hal ini dikarenakan Jogja memiliki banyak aspek menarik untuk diketahui dan dipelajari. Demikian rangkuman mengenai sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta dari dulu hingga sekarang. Semoga informasi ini bermanfaat.

Comments are closed.